Harmonisasi Budaya dan Pendidikan

Dalam perbendaharaan kata bahasa Jawa, budaya berasal dari kata budi dan daya. Kata budi bermakna akal atau batin dan daya bermakna upaya atau kekuatan. Selanjutnya kata ini disatukan sehingga membentuk makna baru yaitu budaya, yang dapat diartikan sebagai kekuatan batin dan daya upayanya menuju kebaikan.

Jika kita amati dan kita kaji lebih dalam, budaya tidak hanya terbatas pada kesenian daerah ataupun tradisi turun-temurun masyarakat saja, namun juga melingkupi hal yang lebih kompleks seperti bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya, dengan Tuhannya, maupun dengan sesamanya karena budaya akan berkaitan erat dengan hal-hal yang mengandung unsur budi dan akal.

Menurut definisi konsepal Alfred Kroeber dan Clyde Luckhon, kebudayaan terdiri dari pola-pola yang nyata maupun tersembunyi, dari dan untuk perilaku yang diperoleh dan dipindahkan dengan simbol-simbol yang menjadi hasil yang tegas dari kelompok-kelompok manusia, termasuk dalam perwujudannya berupa barang-barang buatan manusia, inti pokok dari sebuah gagasan tradisional yang diperoleh dan dipilh secara historis dengan nilai yang tergabung. Di satu pihak sistem-sistem kebudayaan dapat dianggap sebagai hasil-hasil tindakan, namun di lain pihak kebudayaan digunakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi tindakan selanjutnya.

Pada hakekatnya manusia adalah makhluk budaya, sehingga dalam kesehariannya manusia tidak dapat terlepas dari budaya. Setiap budaya yang berkembang dalam masyarakat mengandung tujuan menciptakan keteraturan dan keserasian hidup dalam bermasyarakat, sehingga keberadaan budaya berperan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya bagi pembentukan karakter anak bangsa.

Salah satu budaya yang paling dekat dengan kita adalah budaya Jawa. Budaya Jawa mengandung sifat religius, non doktriner, toleran, akomodatif dan optimistik sehingga budaya dapat membentuk manusia yang berbudi bawa laksana, yaitu pribadi yang konsisten.  Kebudayaan Jawa juga memiliki banyak falsafah hidup yang didapat dari hasil perenungan yang tak jarang mengandung nilai pendidikan dan nilai keluhuran yang tinggi. Seperti contoh falsafah madya ngono ya ngono ning aja ngono. Falsafah ini memiliki arti bahwa dalam pergaulan, masyarakat Jawa harus empan papan, yaitu pandai menyesuaikan diri, namun tidak kehilangan jati dirinya. Hal ini juga perlu kita terapkan dalam dunia pendidikan. Di era globalisasi seperti ini arus informasi dari berbagai belahan dunia dapat dengan mudah diakses oleh generasi muda Indonesia melalui berbagai media, khususnya internet. Jika sudah seperti ini diperlukan adanya filter sebagai penyaring agar pengaruh asing yang buruk tidak masuk dan merusak pendidikan serta moral generasi muda. Budaya sebagai local genius sangat berperan dalam penyaringan pengaruh ini karena dalam budaya terdapat nilai-nilai luhur bangsa yang berkaitan dengan norma-norma moral sehingga pengaruh buruk dapat dihindarkan dari para generasi muda Indonesia.

Selain memiliki falsafah hidup, budaya Jawa memiliki tingkat tutur atau unggah-ungguh berbahasa dalam pergaulan yang patut dilestarikan dan ditanamkan dalam dunia pendidikan karena di dalamnya terkandung nilai sopan-santun yang tinggi. Dalam masyarakat Jawa, tingkat tutur ini memiliki tingkat kesopanan dan kehalusan yang berbeda, tergantung pada siapa mitra tutur kita. Menurut penerapannya, dalam bahasa Jawa ada tiga tingkatan, yaitu basa ngoko, basa krama dan basa krama inggil. Basa ngoko sendiri ada dua macam, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus. Ngoko lugu digunakan untuk sesama teman yang sudah akrab, untuk orang yang lebih muda dan untuk menggumam dalam hati sedangkan ngoko alus yang merupakan campuran dari basa ngoko dan krama inggil digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih muda usianya, namun lebih tinggi jabatannya atau wajib dihormati. Dalam penggunaannya, basa krama dibagi menjadi dua, yaitu basa krama lugu dan krama alus. Basa krama lugu digunakan jika mitra tutur belum kita kenal akrab dan usianya lebih muda dari kita. Basa krama lugu ini juga digunakan jika mitra tutur sebaya dengan kita namun kita belum mengenalnya secara akrab serta digunakan pula untuk interaksi antar orangtua yang sudah saling mengenal dengan akrab, sedangkan basa krama alus yang merupakan campuran antara krama lugu dan krama inggil digunakan untuk semua mitra tutur yang wajib kita hormati baik karena jabatannya maupun karena usianya. Selanjutnya adalah krama inggil. Krama inggil biasanya digunakan di lingkungan istana dan digunakan pula untuk interaksi anak dengan orangtuanya, kakek dan neneknya dan kepada semua mitra tutur yang wajib kita hormati baik karena jabatannya maupun karena usianya. Tingkatan semacam ini tidak kita temui dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia semua orang disamaratakan sehingga tak jarang dalam dunia pendidikan para siswa berinteraksi dengan gurunya dengan menggunakan bahasa gaul atau bahasa Indonesia tidak baku yang biasa digunakannya untuk berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya. Hal ini tentu akan mengurangi nilai kesopanan seorang siswa terhadap gurunya. Di sinilah peran budaya dalam pendidikan, yaitu membentuk karakter. Jika siswa telah dibekali dengan pembentukan karakter yang baik dan kuat, maka seorang siswa tidak akan menyepelekan gurunya maupun menyepelekan orang yang lebih tua. Mereka akan tetap berlaku sopan walau tanpa pengawasan guru maupun orangtuanya.

Budaya Jawa juga memiliki aturan tersendiri dalam berbusana dan bertingkah-laku. Busana Jawa, terutama untuk kaum wanita senantiasa anggun, sopan dan rapi. Budaya berpakaian sopan dan rapi harusnya juga kita terapkan dalam dunia pendidikan karena sekarang para siswa telah terkena westernisasi  yang telah mengubah gaya hidup maupun cara berpakaian mereka. Terlebih tayangan televisi masa kini lebih banyak menyuguhkan adegan para siswa yang berpakaian seragam dengan lengan kemeja yang digulung sedemikian rupa, memakai aksesoris seperti rantai, krah yang dinaikkan ke atas ataupun seragam yang dimodifikasi mengikuti trend. Begitu pula para siswinya. Mereka digambarkan sebagai siswi modis yang pergi ke sekolah dengan rok sebatas lutut, memakai aksesoris bling-bling dan memakai kosmetik. Hal ini tentu bertentangan dengan peraturan yang berlaku, baik peraturan sekolah maupun peraturan adat ketimuran yang tidak tertulis. Tingkah laku para remaja masa kini juga cukup memprihatinkan. Mereka yang notabene para siswa yang setiap hari digembleng di dunia pendidikan pun tidak terlepas dari tingkah laku yang memprihatinkan ini. Sekarang berpacaran bergandeng tangan di depan orang banyak telah menjadi pemandangan yang biasa, padahal dulu ketika rakyat Indonesia, khususnya wilayah Jawa Tengah masih memegang teguh budaya, hal semacam ini menjadi hal yang tabu dilakukan. Hal – hal seperti inilah yang ditakutkan jika budaya perlahan-lahan luntur. Jika budaya luntur dan lama-lama menghilang, budaya malu dan ewuh perkewuh akan tergeser oleh falsafah hidup modern yang menjurus pada individualisme, egoisme dan materialisme.

Budaya malu disini adalah malu dalam artian positif, yaitu malu karena melanggar peraturan atau malu untuk melakukan kesalahan-kesalahan bukan malu karena rendah diri. Orang Jawa tulen biasanya akan malu atau perkewuh jika merasa melakukan perbuatan yang keliru. Tanpa ditegur langsung, hanya dilirik saja mereka sudah merasa malu dengan perbuatan yang telah mereka lakukan, berbeda dengan anak zaman sekarang, mereka tetap enjoy dengan apa yang mereka kerjakan walau tahu sebenarnya dia telah berbuat salah. Sebagai suatu contoh, para remaja masa kini sangat hobi datang terlambat dalam semua acara. Walaupun telah terlambat berulang kali, dia tidak malu ataupun perkewuh.

Budaya lain yang mulai luntur adalah budaya jujur. Kejujuran banyak yang mulai hilang dalam diri para siswa, mulai dari jujur kepada orangtua, kepada guru maupun kepada diri sendiri. Lunturnya kejujuran ini sangat terlihat ketika diadakannya ulangan. Mayoritas murid menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai sempurna. Contek-mencontek dan jual-beli soal mulai marak, hal ini sebenarnya merupakan pembohongan kepada diri sendiri. Di zaman yang semakin modern ini semakin sulit menjumpai sebuah kejujuran, bahkan di Jawa sendiri muncul pameo “jujur ajur” (jujur hancur). Ini menandakan erosi budaya sudah semakin serius dan merajalela. Semakin lama, erosi budaya ini juga mempengaruhi dunia pendidikan karena para siswa hanya akan pandai secara IQ saja, namun tidak memiliki sopan santun dan tingkah laku yang baik. Budaya khususnya budaya daerah yang bernilai luhur akan semakin mereka tinggalkan karena pengaruh budaya barat yang belum tentu sejalan dengan kepribadian bangsa Indonesia. Selain pendampingan agama, pendampingan budaya juga diperlukan dalam proses pembelajaran di dunia pendidikan sebagai penyeimbang pembentukan karakter anak didik agar tercipta generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia dan juga tahu sopan-santun serta mencintai, menghargai dan melestarikan budayanya sendiri.

Pada intinya banyak sekali negara yang meraih masa keemasannya dengan menggabungkan transformasi budaya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti contoh Jepang dengan budaya kaizen-nya yaitu mengambil pengaruh baik yang diberikan budaya lain, membuang pengaruh buruk dari kebudayaan yang mereka ambil kemudian mereka menciptakan penemuan baru dari proses ini. Selain budaya kaizen, Jepang juga masih memelihara nilai-nilai budaya tradisional, khususnya kerja keras dan kejujuran sehingga Jepang berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai bangsa yang maju dalam bidang IPTEK dan dikenal sebagai bangsa yang berprinsip dengan sumber daya manusia yang tidak diragukan lagi kualitasnya, sehingga mereka sukses memaksimalkan pendayagunaan sumber daya alam mereka untuk kemakmuran negaranya walaupun sumber daya alam mereka tak sekaya sumber daya alam Indonesia.

Di Indonesia sendiri budaya semacam kaizen ini sangat diharapkan dan diperlukan dalam dunia pendidikan. Bangsa Indonesia boleh bergaul dengan bangsa manapun, boleh menerima budaya dari negeri manapun asal tidak melupakan jati diri bangsa dan selalu waspada serta selektif dalam menerima hal-hal yang baru. Dengan penggabungan budaya dan pendidikan akan tercipta sebuah harmonisasi yang serasi agar Indonesia dapat berinovasi menciptakan produk baru untuk memakmurkan negeri tercinta.

Oleh                    :

Fitriana Kartika Sari

K4211019

FKIP Bahasa Jawa UNS Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>