Indonesia, Tanah Surga

Oleh : Akbar Rochim M

Di antara kalian pasti banyak yang sudah melihat film Tanah Surga Katanya karya sutradara terkenal Deddy Mizwar. Film tersebut mengisahkan tentang kehidupan rakyat Indonesia yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia, yang sering keluar masuk negeri jiran tersebut. Bahkan, warga di sana lebih sering bertransaksi jual beli dengan mata uang Malaysia daripada dengan rupiah. Sang ayah yang notabene warga Indonesia, lebih memilih bekerja dan tinggal di Negara Malaysia dibanding di kampung halamannya, karena alasan kesejahteraan. Memang ceritanya bukan kisah nyata, akan tetapi kurang lebih seperti itulah kenyataan hidup masyarakat di sana.

Jika kita menilik lebih luas ke daerah lain yang juga berbatasan dengan negara tetangga, mungkin kita juga akan melihat kenyataan yang hampir serupa. Rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput sendiri. Kita tidak bisa menyalahkan mereka yang lebih memilih hidup di negeri seberang dibanding negeri sendiri, karena mereka merasa lebih sejahtera di sana. Gaji lebih tinggi, fasilitas lebih nyaman, makanan tercukupi, itulah yang membuat mereka lebih betah berada di sana. Tak heran jika dahulunya banyak orang Malaysia belajar di Indonesia karena saat itu pendidikan di Indonesia lebih maju, tapi kini malah berbalik arah. Bahkan dari segi teknologi kita kalah maju dibandingkan mereka. Mereka memiliki monorail lebih dahulu dibandingkan kita, Pembangkit listrik tenaga angin maupun ombak laut yang lebih maju dibandingkan kita, hingga tata kota yang lebih baik dibandingkan Indonesia.

Indonesia, Nasibmu Kini

Beralih ke aspek lain, Indonesia yang dikenal dengan keberagamannya kadang menjadi senjata makan tuan yang merusak keutuhan NKRI sendiri. Pengakuan terhadap enam agama karena mengakui Tuhan Yang Maha Esa, meskipun pada agama tertentu mengakui tuhannya ada tiga, tetapi sesungguhnya hanya satu, justru berbalik menjadi penyebab ketidakharmonisan kondisi kehidupan masyarakatnya. Golongan agama tertentu menganggap bahwa agama yang lain sesat, sehingga harus dimusnahkan. Golongan yang lain sepakat bahwa semua agama sama sehingga muncullah liberalisasi.

Hasil alam yang melimpah, akan tetapi sebagian besar saham pengelolanya adalah pihak asing, sedangkan Indonesia hanya mendapat bagian yang sedikit, atau bahkan sedikit sekali. Buruknya birokrasi muncul sebagai penyebab utama masalah ini. Emas, kelapa sawit, ikan, bahkan pulau, tidak sedikit yang diambil pihak luar, entah secara legal maupun ilegal.

Sebenarnya bangsa ini banyak yang pintar, tapi pindah ke luar negeri, karena di sana lebih dihargai dibanding di negeri sendiri. Mental pengemis masih menggelayuti sebagian rakyat, entah itu rakyat ataupun pejabat. Pola pikir malas banyak dihembuskan oleh media massa baik secara elektronik maupun non elektronik. Yang penting bisa duduk santai, tapi dapat banyak uang.

Mau tak mau kita harus mengakui inilah Indonesia sekarang. Sepertinya permasalahan di negeri ini tak kunjung habis. Kemiskinan, degradasi moral, kesenjangan sosial yang tinggi, tidak meratanya pendidikan, hingga krisis kepercayaan pada lembaga pemerintah yang bertugas melayani rakyat. Banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, atau minimal dikurangi oleh bangsa ini umumnya, dan pemerintah khususnya.

Tapi kita juga tidak setuju jika bangsa ini yang ada hanya jelek saja. Banyak prestasi yang diraih putra bangsa di kancah internasional. Mulai dari olahraga, sains, hingga seni. Bangsa ini tidak akan maju jika kita hanya berdiam diri mengetahui kenyataan buruk akan bangsa ini. Bukan hanya protes, demonstrasi, atau hal lain yang justru akan memperparah keadaan sekarang ini. Marilah kita berupaya memperbaiki keadaan dengan berorientasi ke masa depan, bahwa kelak anak-anak kitalah yang mewarisi Negara ini di kemudian hari. Tentu kita tidak ingin jika anak-anak kita hidup sengsara karena yang kita wariskan hanyalah segudang masalah yang belum terselesaikan.

Ini Indonesiaku, mana Indonesiamu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>