Industrialisasi Pangan Lokal Sebagai Upaya Pengembangan Pangan Lokal di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali

Yahya Dwi Putra Nugraha_Pendidikan Teknik Mesin 2012

Pangan merupakan suatu kebutuhan primer yang sangat penting bagi kehidupan manusia yang harus dipenuhi. Pangan telah menjadi salah satu sektor yang paling disoroti di negeri ini. Tak henti-hentinya para pemerintah, elit politik serta seluruh elemen masyarakat selalu membicarakan mengenai kebutuhan pangan yang notabene menjadi tonggak bagi kesejahteraan manusia. Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk tujuan tersebut salah satu upaya yang dapat ditempuh ialah melalui peningkatan mutu pangan lokal.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, yang diperkirakan mencapai 250 juta jiwa pada tahun 2015. Negara yang terkenal dengan potensi alam yang sangat melimpah itu kini tengah mengalami masalah yang sangat serius yaitu krisis pangan. Dalam pemenuhan kebutuhan pangan Indonesia masih memiliki beberapa masalah bahkan terjadi ketimpangan pangan yang menyebabkan melemahnya ketahanan pangan nasional. Ketahanan pangan nasional disinyalir akan semakin rapuh apabila tidak ada perubahan pola pangan masyarakat. Untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut, Indonesia perlu melaksanakan diversifikasi pangan untuk menguatkan ketahanan pangan nasional. Hal itu dilakukan untuk mengurangi permintaan dan ketergantungan bahan pokok beras. Selain itu, perlu juga dilakukan langkah mengedukasi masyarakat bahwa ada bahan pangan lain, seperti jagung, ubi kayu, sagu, dan berbagai umbi-umbi lainnya.

Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), penyediaan pangan yang cukup terjangkau oleh semua penduduk merupakan pangkal dari ketahanan pangan nasional, kesejahteraan, kesehatan, dan kecerdasan bangsa.
Undang-undang No. 7 Tahun 1996 mengamanatkan bahwa ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan yang cukup dari segi jumlah dan mutunya, aman, bergizi, merata, dan terjangkau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat, aktif, dan produktif’

Ketahanan pangan nasional menjadi sangat penting dan perlu mendapat prioritas penanganan dalam program pembangunan nasional. Pelaksanaan diversifikasi pangan yang sesuai dan sangat diperlukan adalah pengembangan potensi  pangan lokal. Indonesia memiliki daerah-daerah yang kaya akan pangan lokalnya, contohnya saja di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Desa Tlogolele memiliki pangan lokal seperti ubi jalar, singkong, jagung, kentang, gembili, talas, serta sayuran berupa kol, cabai, tomat, wortel dan masih banyak lagi potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan di Desa Tlogolele.

Pengembangan potensi pangan lokal dapat dimulai dengan memperkenalkan pangan lokal tersebut di lingkungan daerahnya sendiri. Pengenalan pangan lokal di daerahnya sendiri membantu masyarakat sekitar untuk mengetahui bahkan mengembangkan pangan lokal secara luas. Salah satu cara pengembangan pangan lokal adalah dengan cara industrialisasi pangan lokal. Industrialisasi merupakan cara yang tepat karena dengan jalan ini pangan lokal yang hanya dikenal di daerah tempatnya tumbuh bisa dikenal oleh daerah lain bahkan negara lain. Tujuan utama dari proses industrialisasi pangan lokal adalah kembali mengembangkan pangan lokal yang sudah mulai redup keberadannya dan bahkan ditinggalkan karena lebih mudahnya akses mendapatkan beras daripada pangan lokal yang ada di daerahnya. Berikut adalah langkah-langkah Industrialisasi pangan lokal yang dapat dilakukan melalui perspektif aplikasi teknologi pangan dalam industri:

  1. Proses peninjauan lahan pertanian yang dikembangkan penduduk di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Langkah ini bertujuan untuk melihat seberapa luas lahan yang dikembangkan dan apakah perlu penambahan lahan lagi atau tidak serta melihat bagaimana perawatan tanaman pangan lokal yang telah dilakukan oleh masyarakat setempat. Dalam langkah ini diperlukan penyuluhan pertanian dalam memberikan konsep bercocok tanam yang baik dan benar sehingga masyarakat dalam mengembangkan lahan pangan lokal tidak terkesan asal-asalan yang nantinya akan menuai hasil yang kurang maksimal. Tidak hanya konsep saja yang nantinya akan dibagikan namun juga menyediakan teknologi dalam hal bercocok tanam, contohnya saja di Desa Tlogolele masih menggunakan cangkul atau alat bajak. Alat tradisonal ini sudah seharusnya dapat diagantikan dengan alat yang lebih modern. Pengembangan teknologi dalam proses penyuluhan pertanian akan menciptakan efesiensi waktu maupun tenaga sehingga waktu yang diperlukan ketika menggunakan alat tradisional dapat dimanfaatkan untuk hal yang lain.
  2. Pemberdayaan masyarakat. Sumber daya manusia sangat diperlukan untuk melakukan pengembangan pangan lokal melalui industrialisasi dan masyarakat sekitar belum mampu melakukaannya sendiri, untuk itu diperlukan pembinaan dan pendampingan oleh dinas terkait seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Badan Ketahanan Pangan, bahkan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah. Pemberdayaan masyarakat melalui pembinaan dan pedampingan tersebut bertujuan untuk memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa sangat perlunya melakukan pengembangan pangan lokal melalui industrialisasi selain itu pembimbing dan pendamping juga harus memberikan arahan dari tujuan dari dilakukannya pemberdayaan. Setelah diadakannya penyuluhan pertanian dan pemberdayaan, langkah yang selanjutnya dilakukan adalah penyediaan teknologi yang diperlukan. Peralatan yang dimaksud meliputi proses pengolahan hingga pengemasan pangan lokal. Penyediaan peralatan teknologi  akan membuat nilai pangan lokal menjadi tinggi dan akan membuat pembeli menjadi tertarik dibandingkan diolah dengan cara tradisional. Contohnya saja jembak, yang merupakan tanaman yang dapat diolah menjadi sayur. Makanan khas Desa Tlogolele tersebut jika dihidangkan begitu saja maka orang cenderung kurang tertarik, berbeda jika diolah dan dihidangkan dalam wadah yang unik dan divariasikan dengan berbagai bumbu dan rasa, maka banyak masyarakat yang akan tertarik. Begitu juga dengan ubi jalar, singkong ataupun gembili. Hingga saat ini orang yang sering memakan makanan tersebut masih dikategorikan orang desa. Hal ini karena masyarakat di kota masih belum banyak yang mengkonsumsinya dan tidak ada lokasi yang menawarkan ubi jalar, singkong ataupun gembili sebagai makanan pengganti nasi.

3. Pendistribusian. Banyak di daerah Indonesia yang memiliki sarana transportasi yang kurang mendukung sehingga banyak pendistribusian barang sulit dilakukan. Hal ini banyak mengakibatkan daerah mengimpor kebutuhan pangannya dari daerah lain padahal di daerahnya sendiri banyak produksi pangan yang tidak terdistribusikan karena akses transportasi tidak tersedia. Jika dilakukan industrialisasi pangan lokal di daerah tersebut, maka akan menjadi hambatan jika tidak diimbangi sarana transportasi yang memadai. Contohnya saja jika produk industrialisasi hanya dapat bertahan seminggu maka akan menyebabkan kerugian tentunya. Aplikasi teknologi dalam hal ini dapat membuat pangan lokal yang dapat bertahan lama namun tetap enak rasanya. Bisa dimulai dengan pemilihan tempat pengemasan yang tahan air dan kedap udara, jika hal ini dilakukan maka pangan lokal dapat dinikmati oleh seluruh penduduk Indonesia. Jadi aplikasi teknologi dalam industrialisasi pangan lokal sangat penting dilakukan untuk menjamin terciptanya ketahanan dan kedaulatan pangan melalui kemandirian pangan dalam memenuhi kebutuhan pangan di negara sendiri dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai pangan pokoknya yang menjadikan pangan lokal mudah didapat dengan tenaga dan waktu yang efesien namun tetap bernilai ekonomi. Industrialisasi pangan pokok bertujuan untuk mengembangkan kembali pangan lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>