“KAMU BERBEDA KAMU ISTIMEWA”

“Hah…hah..S.hah…”.

Seorang lelaki paruh baya kala itu sedang terengah-engah mengejar anak laki-laki berusia kira-kira 7 tahunan yang mencoba mendekati salah satu pintu perpustakaan yang dibuat melingkar dengan bahan kaca. Anak tersebut mencoba mendorong pintu dengan kepalanya.

“Jangan seperti itu Selo, tapi seperti ini..”, kata lelaki itu pelan sambil membimbing anaknya melewati pintu. Mengajarkannya mendorong pintu menggunakan kedua tangannya. Tak peduli dengan perkataan ayahnya, Selo malah semakin mendekatkan kepalanya pada pintu berputar itu. Mau tak mau ayahnya menariknya agar Selo tidak melukai kepalanya sendiri.

Setelah melewati pintu, sampailah Selo dan ayahnya kepada jajaran rak buku yang cukup banyak jumlahnya. Ayah Selo mendekat pada salah satu rak dengan berbagai macam buku yang membahas tentang anak berkebutuhan khusus. Selo yang juga ingin mencari-cari tahu kini mulai membongkar-bangkir buku-buku yang tersusun rapi di jajaran rak tersebut. Meski ayahnya telah berusaha melarang, namun Selo tetap saja melakukannya. Melihat tingkah Selo, ayahnya memutuskan untuk segera mengambil salah satu buku, kemudian mengajak Selo menuju tempat peminjaman dan pulang ke rumah setelahnya.

Setibanya di rumah, ayah Selo membuka buku yang tadi dipinjamnya dari perpustakaan. “Lima Cara Sederhana Mengajari Anak Autism”, itulah judul bukunya. Ya, Selo memang anak “istimewa”. Ayahnya mengetahui perilaku Selo yang “berbeda” dari anak-anak normal lainnya saat Selo berumur 3 tahun. Terlambat memang ayah Selo menyadarinya. Padahal autism dapat dideteksi sejak dini, misalnya ketika baru berumur 6 atau 10 bulan.Awalnya ayah Selo mulai menyadari perilaku Selo yang “tak biasa” ini ketika Selo tiba-tiba masuk ke kamarnya, mencari-cari barang yang ia inginkan sehingga membuat barang-barang lain berserakan sambil berteriak layaknya orang histeris. Sejak saat itu, Selo semakin sering melakukan hal-hal yang tak “tak biasa”.

Ayah Selo, Pak Dimas harus mengurus Selo seorang diri karena istrinya meninggal saat Selo dilahirkan. Untungnya Pak Dimas merupakan orang berpunya sehinnga perlahan tapi pasti, Pak Dimas berusaha mencarikan solusi atas apa yang terjadi pada Selo. Mulai dari berkonsultasi dengan dokter, mengajak Selo untuk terapi, dan sempat pula Selo dimasukkan ke sekolah khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Namun tampaknya Selo belum mengalami perubahan, sehingga ayahnya memilih untuk membiarkan Selo belajar di rumah.

“Memang dibutuhkan kesabaran ekstra untuk mengajari anak bapak”. Pak Dimas teringat kata-kata seorang guru yang baru saja pindah tepat di seberang jalan rumahnya mana kala mengetahui bahwa Selo termasuk salah satu anak autism.

“Pada dasarnya semua orang itu sama Pak. Mereka akan merasa senang dan nyaman ketika mereka diberi kasih sayang”, tutur Bu Anna dalam ingatan ayah Selo.

Bu Anna  memang salah satu guru di sekolah khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus, jadi sedikit banyak dia paham apa yang sebaiknya dilakukan oleh ayah Selo.

Atas saran dari Bu Anna, akhirnya Pak Dimas memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di kantor dan memutuskan untuk menemani Selo dan mengajarkan berbagai macam hal kepadanya seorang diri.

Pak Dimas mulai mempelajari halaman demi halaman dari buku yang dipinjamnya. Dalam buku tersebut dituliskan 5 cara untuk mengembangkan kemampuan verbal anak autis. Pak Dimas merancang sistem pembelajarannya  berdasarkan panduan buku dan bantuan dari Bu Anna. Karena ada 5 cara, mereka memutuskan untuk merapkan satu caranya setiap bulan.

Pada bulan pertama, Pak Dimas dan Bu Anna menerapkan metode “Permainan Tiba-tiba”. Pada metode ini, Selo diajak untuk bermain dengan apa yang menurutnya menarik. Awalnya, Pak Dimas dan Bu Anna sengaja meletakkan botol minum kesayangan Selo yang bergambar batman di lantai teras rumah. Bu Anna meminta Selo mengambil botol tersebut dan mulai mengajari bagaimana caranya membuka dan menutup botol tersebut. Perintah sederhana seperti “buka” dan “tutup” mulai diikuti Selo. Berlanjut ke tingkat yang lebih sulit seperti “tuang” untuk menuangkan air yang ada dalam botol. Pak Dimas dan Bu Anna mengulang-ngulang dan mengajarkan beberapa perintah yang akhirnya mulai dimengerti Selo selama sebulan dengan cara tersebut meskipun banyak juga tantangan yang harus dihadapi, seperti Selo yang lebih memilih berlari kesana kemari atau enggan mengikuti perintah pada awalnya.

Metode kedua yakni “Lomba Menamai Benda”. Di sini Pak Dimas dan Bu Anna menyediakan beberapa gambar yang telah dikenal Selo kemudian dinamai. Saat itu mereka menyiapkan gambar mobil, apel, burung, dan masih banyak lagi. Pada metode kedua ini Selo diminta untuk berlari, memegang gambar yang ada seperti mobil, kemudian menyebutkannya dengan keras “Mobil!”. Begitu seterusnya. Pak Dimas dan Bu Anna juga memandu Selo untuk menggabungkan dua kata, misalnya apel merah. Bulan kedua terlihat kemajuan pada Selo.

Bulan ketiga, Selo diajari menggunakan metode “Menyanyikan Lagu”.

Balonku ada lima…

Rupa-rupa warnamya..

Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru..

Meletus balon hijau…DOR!

Selo melompat dan tertawa penuh semangat ketika mengatakan “DOR” menunjukkan bahwa Selo senang dan mulai tertarik untuk belajar. Melihat hal tersebut Pak Dimas dan Bu Anna tersenyum bersamaan. Merasakan usaha mereka ternyata membuahkan hasil.

Bulan berikutnya mereka menerapkan metode keempat pada Selo, yakni “Menonton Televisi”. Bu Anna datang membawa setumpukan kaset DVD Batman, tokoh kesukaan Selo.

“Siap untuk metode berikutnya, Pak?”, tanya Bu Anna.

“Insyaallah siap Bu. Semoga berhasil ya Bu”, jawab Pak Dimas sembari membantu meletakkan DVD yang dibawa Bu Anna tadi.

“PASTI PAK!”, sahut Bu Anna mantap.

Seperti buku yang telah dibaca Pak Dimas, menonton televisi ternyata mampu membantu Selo mengenal lebih banyak hal sehingga Selo mampu menceritakan apa yang ia tonton ketika ditanya oleh ayahnya ataupun Bu Anna.

Pada bulan kelima, yang tersisa adalah metode terakhir yakni “Permainan Pura-pura”. Selo yang mengidolakan tokoh batman kini diminta berpura-pura berperan sebagai batman dengan skenario yang telah disusun.

Dalam waktu 5 bulan ternyata Selo sudah mengalami banyak kemajuan. Akhirnya atas saran dari Bu Anna juga Selo dimasukkan kembali ke sekolah khusus anak berkebutuhan khusus tempat Bu Anna mengajar. Karena meskipun Selo telah banyak kemajuan, Selo masih butuh banyak belajar untuk dapat hidup layaknya anak normal lainnya.

Satu yang dipelajari oleh Pak Dimas adalah bahwa mempunyai anak seperti Selo adalah sesuatu yang tidak biasa.

“Selo itu berbeda. Istimewa”, begitu ujarnya dalam hati dengan senyum mengembang di wajahnya.

           

THE END JJJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>