Langkah Kakiku Di Tengah Putihya Salju

Karya: Yahya Dwi Putra Nugraha

“Sampai tujuan yang aku ingin, tidak peduli apa kegelapan ada di depan, aku akan terus berjalan walau tak akan sampai. Di tengah mimpi air mata mengalir, kuhapus dengan tangan ini. Karena aku yakin langit biru menunggu diriku.”

Kupandangi tulisan itu sembari mengusap air mata. Selembar kertas putih kecil dengan tulisan sederhana memberikan semangat disetiap hembusan nafasku. Dibalik jendela kaca aku memandang luar yang masih tampak sepi. Kedua tanganku berdiri menopang daguku. Aku mendekat ke jendela kaca dan melihat butiran salju yang terus berjatuhan. Sangat indah. Putih tampak jelas menyelimuti hamparan tanah.

“Salju.., mimpiku benar-benar terwujud”, lirihku.

Lulus Sarjana (S-1) dari Sebelas Maret University aku melanjutkan studi Magister (S-2) di Hokkaido University, Japan. Alhamdulillah aku mendapat  beasiswa penuh untuk studi ini. Saat ini aku tinggal di Hokkaido yang merupakan salah satu pulau unik di Japan. Banyak orang menyebutnya The Bless Island atau pulau yang penuh anugerah.

“Putra, pagi-pagi kok melamun..” suara Mr. Hans mengagetkanku.

Ia lalu mengambil posisi duduk disampingku. Pria berambut pendek itu tersenyum hangat. Di rumah inilah aku tinggal, Sapporo City. Mr. Hans adalah seorang guru asal Indonesia yang mendapat beasiswa Teacher Training di Japan. Di sini beliau juga mengemban amanah mengajar di sekolah dasar di Asahikawa. Aku merasakan kehidupan yang berbeda. Tinggal di rumah sederhana, jika mandi minimal harus dua hari sekali. Maklum musim dingin, tubuh ini belum terbiasa di lingkungan bersalju. Aku juga diberi kesempatan oleh Mr. Hans untuk mengajar anak SD. Yeah, tantangan baru.

***

Butiran salju terus berjatuhan, dingin merajai dalam suasana yang hening tanpa suara. Aku berjalan tertatih menyusuri jalanan terjal yang penuh dengan salju. Ini baru awal, aku merasa seperti tak kuat dalam kondisi seperti ini.

“Hidup tak semudah yang kau bayangkan, tetaplah belajar, berusaha dan berdo’a. Jadilah orang yang hebat Nak, jadilah permata yang senantiasa menebarkan keindahan, kuatlah menghadapi tantangan. Berjuanglah dengan penuh semangat penuh cinta kasih…”

Teringat pesan dari Ibu yang menguatkanku. Sesampainya di SD kupandangi wajah anak-anak yang terhiasi oleh senyum semangat. Senyumku mengembang.

“Selamat pagi anak-anak…” Salamku lantang penuh semangat.

“Selamat pagi Pak guru…” Jawab mereka dengan tak kalah semangat. Sungguh tak terlukiskan rasa bahagia ini tiap kali mereka memanggilku ‘Pak guru’.

Kini aku benar-benar bahagia. Aku siap membantu Mr. Hans melatih tari putra-putri SD di desa ini untuk persiapan menyambut Festival Budaya yang menjadi agenda rutin setiap tahunnya di Asahikawa. Dengan lemah gemulai ku latih mereka, tampak gembira mereka menggerak-gerakkan tubuhnya.

Waktu terus berlalu. Terangnya sang mentari menandakan hari semakin siang. Aku memandang anak-anak tertawa riang, terus menari penuh gairah tak sedikitpun merasa lelah. Kupalingkan wajahku ke salah satu sudut bangunan sekolah. Kulihat sosok anak perempuan manis duduk terpaku dan terus diam. Rasa penasaran memaksa kakiku berjalan menghampirinya.

“Sakura, apa kau baik-baik saja?” Tanyaku sambil memegang pundaknya.

Astagfirullah, tiba-tiba tubuh anak mungil itu terjatuh dan tergeletak di lantai. Semua anak berlari menghampiri termasuk Mr. Hans.  Kami semua panik.

“Sakura, Sakura, kau baik-baik saja?” Mr. Hans mencoba membangunkan.

Rasa panik semakin menjadi-jadi ketika anak itu tak lekas bangun. Wajahnya tampak pucat, tubuhnya terasa panas. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sakura?.

“Ayo cepat bawa ke dokter.” Ucap Mr. Hans sambil megangkat tubuhnya.

***

Sedari tadi Ibu Sakura mondar-mandir kesana-kemari. Terus berjalan seperti halnya orang bingung. Ya tentu aku tahu yang dia rasakan saat ini. Gelisah. Aku dan Mr. Hans hanya bisa terdiam dan duduk di kursi kecil rumah sakit ini. Rasa kawatir terus menggelayuti pikiran kami. Kami ingin segera tahu kondisi Sakura saat ini.

Kreeekkk.., suara pintu itu memecah keheningan kami. Raut wajah dokter yang tampak muram membuat kami semakin takut. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Sakura.

“Dok, apa Sakura baik-baik saja?” Tanyaku penasaran.

“Maaf Pak, Bu, Mas, Sakura harus dirawat di rumah sakit.” Dokter Hiroki menghela nafas panjang. “Sebenarnya Sakura terkena anemia.” Lanjutnya.

Anemia? Aku tersentak kaget mendengar ucapan itu. Anak sekecil itu harus berhadapan dengan penyakit yang mematikan. Air mataku berlinang, perasaan ini tercabik-cabik. Terdengar suara tangis Sakura yang tertahan. Reflek aku hendak masuk ruangan itu dan ingin menenangkan Sakura.

“Kak, apa aku baik-baik saja?” Matanya menatapku tajam, tampak semburat rasa sedih diwajahnya.

“Iya Sakura kamu baik-baik saja.” Jawabku sambil tersenyum.

“Kak, aku gak mau sakit, aku ingin sekolah, ingin main sama teman-teman lagi. Hiks.. hiks..” suara Sakura meninggi.

“Iya Sakura, tapi sementara ini kamu harus istirahat dulu di sini supaya kamu cepat sembuh, kakak dan Ibumu akan menemanimu Sakura.” Imbuhku.

Ya Tuhan kenapa kau berikan penyakit ini kepada anak kecil itu, kenapa tidak aku saja? Perasaan tak terima masih mengitari jiwa ini. Aku memeluk tubuh Sakura dan membelai rambut lurusnya.

***

Pagi yang dingin. Bau basah embun menyeruak. Aku terus menatap keluar jendela, menerawang dan membayangkan bagaimana jika Sakura tahu akan penyakitnya. Bisa kurasakan betapa sedihnya dia dirawat di rumah sakit, mengingat dia sangat benci jika dirawat di rumah sakit.

“Kak, di rumah sakitnya masih lama ya? Aku ingin pulang.” Tanya Sakura mengagetkanku.

“Emm, mungkin beberapa hari lagi, memang kenapa Sakura? Kamu dirawatkan biar lekas sembuh.” Jawabku meyakinkan.

“Tapi aku ingin sekolah, menari lagi dengan teman-teman dan ikut Festival Budaya.” Ucap Sakura penuh harap.

Begitulah dia, tetap bersikeras untuk sekolah. Apalagi menari. Karena baginya menari sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Dia meyakini bahwa melalui pendidikan akan terlahir penari yang tak hanya piawai dalam menari tapi juga penari yang cerdas yang mempunyai prinsip. Itulah cita-citanya.

Festival tigggal beberapa hari lagi, berbagai persiapan telah dilakukan. Sakura yang sedari tadi terus ngotot ingin pulang untuk mengikuti Festival Budaya memaksaku memohon kepada dokter untuk mengijinkannya pulang.

“Dok, tolong sekali ini saja wujudkan impian Sakura. Ijinkan Sakura tampil besok. Setelah ini…. aku…aku akan menyuruhnya istirahat total.” Ucapku menahan air mata dan berusaha menenangkan diri.

“Baikalah, sekali ini saja.” Ucap dokter dengan nada tertahan. Tampak berat Ia itu mengatakanya.

***

Rombongan masyarakat setempat serta Pemerintah Kota tampak sudah menduduki kursi penonton. Tak hanya itu para penonton dari berbagai negara asing juga tampak antusias menyaksikan pertunjukan seni “anak SD” ini. Para oarng tua dari anak-anak yang akan unjuk kebolehan juga tamapk hadir.

Pertunjukkan demi pertunjukan telah berlangsung, sorak sorai penonton menggema. Tiba giliran Sakura untuk tampil. Diiringi tepuk tangan meriah, Sakura maju kedepan, lalu dia menunduk penuh hormat kepada penonton. Cantik wajahnya dengan mengenakan pakaian khas daerah dia menari dengan penuh penghayatan. Gerak tarinya yang indah mampu membuat penonton berdecak kagum. Para penonton mulai berdiri, tepuk tangan dan sorak gempita membahana setelah Sakura usai menari.

Di ujung sudut ruangan aku menyaksikannya, sungguh tak terlukiskan luapan rasa bangga dan bahagia ini. Lalu Sakura angkat bicara dengan microphone yang dipegangnya. Suasana hening.

“Tarian tadi untuk Ibuku tersayang yang sangat aku cintai. Dan..untuk Kak Putra yang telah berjuang mewujudkan impianku terimakasih..,” suaranya tertahan menahan air mata.

“Pengorbanan, kasih dan cinta Kak Putra pada kami akan selalu kami ingat, sekali lagi untuk Ibu yang selama ini merawatku penuh kasih aku sangat sayang padanya.” Ucapnya polos.

Terdengar tepuk tangan seseorang di ujung pintu, semua mata lalu tertuju pada sumber suara. Di sana Ibu Sakura tersenyum bangga dengan mata berkaca-kaca dan Ia berjalan mendekati Sakura. Sakura terkejut senyumnya mengembang saat melihat Ibunya. Ia berlari dan memeluk Ibunyanya. Penonton langsung memberi tepuk tangan, mereka ikut larut dalam suasana haru bahagia.

Tanpa terasa ku meneteskan air mata. Aku sangat bahagia melihatnya. Di relung hatiku akupun sangat merindukan Ibu di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>