(MASIH) DI HARI PAHLAWAN

            Sudah sekitar satu minggu lebih peringatan hari pahlawan berlalu namun semangat perjuangan para pahlawan tidak mungkin dilalukan begitu saja. Semangat yang ditunjukkan arek-arek Suroboyo dalam membela tanah air membuat presiden Soekarno menetapkan tanggal 10 November sebagai hari pahlawan. Peringatan hari pahlawan bukan sekedar melaksanakan upacara bendera namun alangkah baiknya jika kita ikut memiliki semangat pejuangan seperti para pahlawan. “Warisi apinya jangan abunya” begitu kata Soekarno.  Mewarisi “api” bukan mejadi hal yang mudah bagi kita yang hidup dizaman sekarang. Nilai-nilai perjuangan sudah memudar tergerus zaman. Bisa diartikan bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa tidak bisa meneruskan perjuangan seperti mereka. Bukan berjuang untuk ikut berperang melawan Belanda namun berjuang bagaimana memajukan bangsa dan negara sesuai cara kita masing-masing.

Dalam lingkungan pendidikan, ada sebutan pahlawan tanpa tanda jasa yang di berikan bagi seorang guru. Disebut pahlawan tanpa tanda jasa karena mungkin dahulu guru identik dengan sosok yang sederhana secara fisik dan materi. Namun kesederhanaannya tidak mengalahkan perjuangan untuk menebar ilmu kepada semua siswa walaupun harus banyak berjuang untuk menghampiri siswanya. Saat ini kondisi guru sangat jauh lebih baik dari pada dahulu, namun apakah saat ini guru masih bisa di sebut pahlawan tanpa tanda jasa seiring lunturnya semangat kepahlawanan di zaman sekarang?. Guru sebagai role model bagi siswanya harus mampu menunjukkan nilai-nilai kepahlawanan dengan cara menunjukkan pribadi yang baik di depan siswa. Guru yang semangat dalam mengajar akan menularkan sengat belajar kepada siswa-siswanya, namun kenyataanya tidak semua guru dapat tampil dengan baik di depan siswa. Pengalaman di sekolah saat praktek membuat saya tergelitik ketika ada siswa yang mencontohkan gerakan gurunya saat mengajar. Menurut siswa, guru itu selalu memberikan tugas yang banyak kemudian dikumpulkan lalu dikembalikan kepada siswa tanpa ada coretan dari guru. Hal ini membuat suudzon siswa muncul bahwa guru itu hanya memberikan tugas banyak tanpa dikoreksi bahkan dinilai. Secara penampilan, guru itu berpenampilan “wah” dan ketika guru mengajar tidak mencerminkan kewibawaan yang ada malah siswa menirukan gaya mengajar guru yang menurut mereka “lucu”. Guru sejati tidak tercermin dari penampilan fisik namun lebih menampilakan inner beauty sehingga guru berwibawa dihadapan siswanya.

Momentum yang tepat saat hari pahlawan untuk mengevaluasi diri agar dapat meneruskan semangat juang seperti para pahlawan terdahulu. Pendidikan sebagai sarana dalam memajukan bangsa tentunya diisi oleh pejuang-pejuang pendidikan. Bagi calon dan pendidik tentu tidak ingin menjadi korban lelucon siswa, maka dari itu mari kita kembalikan sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dengan kesederhanaan yang kita miliki. Fasilitas yang lebih memadahi bagi seorang guru hendaknya dijadikan sarana untuk menambah kualitas bukan malah dibuat terlena oleh fasilitas-fasilitas yang di berikan. Kembali megutip kata soekarno ”jangan sekali-kali melupakan sejarah” nampaknya memang tepat bahwa masa lalu yang sudah menjadi sejarah memiliki keistimewaan tersendiri yang bisa dijadikan pelajaran hidup bahkan mampu menginspirasi bagi orang-orang yang mampu meresapi nilai-nilai perjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>