Memaknai Harkitnas: Tak Sekedar Bercermin pada 38.325 Hari yang Lalu

Memaknai harkitnas tak sekedar bercermin pada 38.325 hari yang lalu atau 105 tahun yang lalu. Tetapi merenungkan kembali bagaimana kita sang pemuda, dapat melanjutkan perjuangan pahlawan di masa itu untuk kehidupan yang lebih baik di masa datang. Hanya lewat sebuah organisasi kepemudaan yaitu Budi Utomo, serta sumpah pemuda yang berlandaskan pada hasrat untuk memerdekakan dan mensejahterakan Indonesia, dapat menggeliatkan seluruh rakyat Indonesia untuk bisa bangkit dari keterpurukannya. Sungguh semangat yang bagaikan “Lem”. Sebagai pemuda di zaman yang serba modern ini, kita mempunyai banyak peluang dan kesempatan untuk bisa berpartisipasi dalam rangka memajukan Indonesia. Banyak bidang yang bisa kita cemplungi, misalnya pendidikan, ekonomi, budaya, kesehatan, lingkungan, seni, politik, dan lain-lain. Pelajari dan fokus pada salah satu bidang yang kita tekuni, akan membuat sekelumit perubahan pada Indonesia.

Pepatah mengatakan, “kemajuan negara bergantung pada kualitas pendidikannya”. Jadi, pendidikan adalah salah faktor yang harus mulai kita perhatikan bahkan bisa dibilang dinomorsatukan. Tidak ada orang yang bisa menjadi dokter, arsitek, pengusaha, bahkan presiden, tanpa melalui proses pendidikan. Marilah sobat, pendidikan Indonesia di masa depan ada di tangan kita. Sebagai mahasiswa, ingat lho ya mahasiswa “yang tak sekedar siswa”, kita dipercayai oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai pemuda perubahan bangsa. Akankah amanah itu kita sia-siakan? Ingat sobat itu amanah, amanah itu datangnya langsung dari Alloh. Janganlah menganggap remeh amanah itu. Kita menjadi mahasiswa bukan sekedar kebetulan, punya uang lebih untuk membayar kuliah, ataupun mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Tetapi kita sebenarnya telah diberi amanah sebagai mahasiswa olehNya, kita diberiakn tugas untuk memberikan perubahan positif bagi bangsa. Yuk, kita bangkitkan bangsa ini mulai dari pendidikan. Pendidikan di Indonesia saat ini masih kurang ideal. Contoh kecilnya saja misalnya banyak anak putus sekolah karena masalah biaya, bahkan ada yang tidak pernah mengalami pendidikan sekolah khususnya di daerah terpencil dan pedesaan, pendidik yang kurang profesional, dan lain-lain. Bukan hanya itu, kemelut masalah pendidikan kita. Tetapi permasalahan pendidikan sudah merebak dan bercabang banyak. Pemerintahpun dituding sebagai induk sumber permasalahan. Pemerintah terus berupaya membenahi kualitas pendidikan, mulai memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dan kurang mampu, memberikan dana Bantuan Operasioanal Sekolah (BOS), sampai mengganti kurikulum pendidikan nasional seperti yang terjadi saat ini. Berbicara mengenai pendidikan erat hubungannya dengan ekonomi. Yah benar, ekonomi sobat. Sebenarnya Indonesia termasuk negara yang kaya. Kaya akan sumber daya alam, kaya akan budaya, kaya akan kearifan lokal, dan pastinya kaya akan koruptor. Sekali lagi, kaya akan koruptur. Ya Indonesia  memang termasuk dalam 20 negara terkaya di dunia yang masuk dalam anggota G-20. Indonesia juga masuk dalam negara BRIIC (Brazil, Rusia, India, Indonesia, China) yaitu negara-negara yang diprediksi akan berpengaruh di dunia Internasional karena berbagai potensi yang dimilikinya. Lalu kemana menghilang kekayaan Indonesia yang di puja-puja itu? tanyakan sendiri pada bapak-bapak dan ibu-ibu koruptor. Walaupun kaya, tetapi uang dimakan para koruptor untuk menggemukkan perut mereka sendiri. Hasilnya  rakyat yang menderita. Salah satu dampak nyatanya yaitu dana pendidikan yang semakin menciut, sehingga menyebabkan akses dan kualitas pendidikan menurun.

Kita haruslah mempunyai peran yang lebih dibanding para pendahulu kita, dalam upaya membangun dan membangkitkan negeri ini dari keterpurukan. Walaupun sudah merdeka secara tersurat, namun makna tersirat dari kemerdekaan itu sendiri belum makjleb ke hati. Pepatah mengatakan, “Jika kamu ingin merubah dunia, maka lakukanlah perubahan itu mulai dari dirimu sendiri”. Karena kita adalah orang yang terdidik, maka mulailah buat perubahan dari hal pendidikan. Sederhana sobat, belajarlah yang tekun, beranilah bercita-cita tinggi, berorganisasilah, mengabdilah kepada masyarakat, gunakanlah ilmu-ilmu yang telah dipelajari untuk diaplikasikan pada kehidupan mereka, dan berdoalah padaNya karena manusia hanya bisa berusaha. Semoga Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi.

Setelah maksimalkan perubahan di bidang pendidikan, hal yang tidak kalah pentingnya yaitu organisasi. Mendengar kata organisasi, tentunya semakin mengingatkan pada harkitnas. Dimana pada waktu itu lahirlah sebuah organisasi bernama yang mempelopori kebangkitan nasional Indonesia. Oleh karena itu, marilah kita berorganisasi. Ada banyak organisasi yang dapat menjalurkan bakat dan potensi kita. Sehingga bakat dan potensi kita dapat tersalurkan melalui jalan yang tepat. Dengan demikian, selama kita menjabat sebagai mahasiswa tidak hanya hardskill saja yang kita peroleh, namun kita juga mempunyai softkill yang akan menjadi nilai plus. Jika semua mahasiswa bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan serta aktif menyalurkan potensinya melalui organisasi, pasti jalan Indonesia untuk bangkit akan semakin mudah. Agen perubahan tidak hanya mahasiswa tetapi seluruh pemuda Indonesia. Pemuda yang mungkin tidak ditakdirkan menjadi mahasiswa juga turut andil dalam perubahan bangsa, misalnya dengan mengikuti kegiatan karangtaruna. Walaupun dalam lingkup desa, tetapi dengan adanya organisasi karangtaruna dapat menjalurkan aspirasi mereka. Dampak negatif dari pergaulan bebaspun dapat diminimalisir dengan adanya kegiatan positif di karangtaruna tersebut.

Intinya untuk melakukan perubahan demi terwujudnya kebangkitan nasional Indonesia adalah mulai dari diri kita sendiri. Rasa nasionalisme dan kepedulian cinta tanah air haruslah dipupuk sejak dini, dan itu kembali kepada tugas dua malaikat bumi, orangtua kita.

 Apakah kita tega membiarkan bumi pertiwi yang elok ini selalu menderita dan air matanya berlinang? Tentu tidak! Janganlah terus berkeluh kesah tanpa adanya tindakan nyata untuk melakukan perubahan. Janganlah pula terus menerus menyalahkan kebijakan pemerintah. Indonesia ini luas sobat, terpisahkan oleh samudra dan lautan yang ganas. Jadi pemerintah untuk mengatur dan menyejahterakan kita semuanya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Butuh perjuangan, jadi marilah kita dukung dengan berusaha ikut turut serta dalam upaya membangkitkan Indonesia mulai dari hal-hal kecil seperti diatas. Karena Indonesia mempunyai potensi yang sangat luar biasa, salah satunya yaitu diri Anda sang pembaca.

By: Dhany Pangestu

2 thoughts on “Memaknai Harkitnas: Tak Sekedar Bercermin pada 38.325 Hari yang Lalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>