OLAH TIKAR R2Π(PI) (HATI, KARSA, RASA, RAGA DAN PIKIR) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI PERILAKU REMAJA DALAM PEMBELAJARN FISIKA

OLAH TIKAR R2Π(PI) (HATI, KARSA, RASA, RAGA DAN PIKIR) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI PERILAKU REMAJA DALAM PEMBELAJARN FISIKA

PENDAHULUAN

Apa yang siswa bayangkan tentang pembelajaran fisika? Sebagian besar dari mereka akan menjawab bahwa fisika dalah pelajaran yang paling sulit dan membosankan. Dewasa ini pembelajaran fisika di tingkat remaja masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain : (1) lebih dari setengah (56%) dari populasi anak usia 9 – 17 tahun kurang menyenangi pembelajaran fisika (Handayanto, 2005); (2) arah pembelajaran fisika yang cenderung merupakan pembelajaran hafalan, verbal, dan tidak terkait dengan kehidupan siswa (Depdiknas, 2002:2); (3) rendahnya kompetensi guru fisikadan (4) masih terdapatnya dualisme yang memisahkan tujuan pembelajaran sains dan pendidikan moral dalam proses pembelajaran sains. Dengan demikian, pembelajaran sains dijauhkan dari tujuannya yaitu untuk membentuk sikap positif terhadap sains dan sebagai alat untuk mengenali serta mengagungkan Sang pencipta sebagai moral agama (Tisnahada, 2006:1).

Rendahnya kompetensi guru akan mendorong terciptanya pembelajaran yang kurang bermakna dan akan mengurangi eratnya keterkaitan dengan kehidupan siswa. Di samping itu, pembelajaran seperti ini akan kurang menunjang dalam pembentukan nilai moral. Imbasnya, siswa khususnya remaja menjadi tidak menyukai pembelajaran fisika dan kenakalan remaja akan menjadi semakin meningkat karena kurang menunjangnya pembentukan nilai moral. Pada kondisi seprti ini, pembelajaran fisika di sekolah seakan – akan tidak berdampak pada cara hidup dan cara berpikir siswa di masyarakat (Hinduan, 2003). Dapat dikatakan pula bahwa pembelajaran fisika sulit dijadikan sebagai alat untuk memberikan bekal pengetahuan, ketrampilan, dan pembentukan sikap positif kepada siswa yang sebagian besar berada pada masa – masa pubertas (remaja).

Pada hakekatnya kenakalan remaja bukanlah suatu problem sosial yang hadir dengan sendirinya di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi masalah tersebut muncul karena beberapa keadaan yang terkait, bahkan mendukung kenakalan tersebut. kehidupan keluarga yang kurang harmonis, perceraian dalam bentuk broken home. Memberi dorongan yang kuat sehingga anak menjadi nakal. Selain faktor lingkungan keluarga, maka faktor lingkungan masyarakat dan faktor lingkungan sekolah juga ikut bertanggung jawab untuk dapat mengatasi kenakalan anak-anak remaja usia sekolah ini. Dalam hal ini, mengandung pengertian bahwa pembelajaran fisika di lingkungan sekolah juga sangat mendukung pengkontrolan kenakalan remaja.

Selain kurangnya kompetensi guru dalam pembelajaran fisika, Sinaga (2002: 34) mengatakan bahwa masih kurangnya motivasi dan kemampuan guru dalam pemilihan bahan ajar, penggunaan media pembelajaran dan penyusunan alat evaluasi; serta tidak terpolanya analisis bahan ajar fisika dan tidak disertai rasional yang patut pada pemilihan metode pembelajaran.

Pada dasarnya, pembelajaran fisika yang berdampak pada cara hidup dan cara berpikir peserta didik khususnya remaja berawal dari tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran fisika mengarah pada timbulnya sikap positif terhadap fisika, pengembangan kompetensi, ketrampilan dalam menguasai konsep, serta penerapan dan pemanfaatan dalam kehidupan sehari – hari. Pembelajaran fisika harus dikembangkan agar tercapainya tujuan yang menyeluruh. Tujuan yang menyeluruh ini berkaitan dengan pembentukan cara berpikir yang benar dan pembekalan dalam menentukan cara hidup remaja yang benar.

Pendidikan karakter merupakan salah satu cara untuk mendukung terselenggaranya pembelajaran fisika yang berkualitas. Ratna Megawangi (2007) dalam bukunya “Semua Berakar Pada Karakter” mencontohkan bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good (suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga berakhlak mulia). Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia.

Dalam hal pendidikan karakter untuk mendukung terselenggaranya pembelajaran fisika yang berkualitas, guru memiliki peranan yang penting sebagai pengajar dan pembimbing dalam menciptakan suasana pembelajaran fisika yang efisien. “Olah tiKar r2π(pi) (Hati, Karsa, Rasa, Raga dan Pikir) sebagai Salah Satu Bentuk Pendidikan Karakter untuk Mengatasi Perilaku Remaja dalam Pembelajarn Fisika” diharapkan menjadi salah satu solusi untuk para pendidik mengatasi permasalan dalam pembelajran fisika.

Pembelajaran fisika dipandang sebagai suatu proses untuk mengembangkan kemampuan memahami konsep, prinsip maupun hukum-hukum fisika sehingga dalam proses  pembelajarannya harus mempertimbangkan strategi atau metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Saat ini di dunia pendidikan tengah dikumandangkan mengenai pendidikan karakter. Nampaknya pendidikan karakter patut kita jadikan inspirasi untuk memcapai pembelajaran fisika yang berkualitas. Salah satu solusi yaitu dengan mengaplikasikan Olah tiKar r2π(pi) (Hati, Karsa, Rasa, Raga dan Pikir) sebagai Salah Satu Bentuk Pendidikan Karakter untuk Mengatasi Perilaku Remaja dalam Pembelajarn Fisika.

Adapun acuan dari program tersebut antara lain :

  1. 1.    Olah Hati(Spiritual and emotional development)

Olah hati bermuara pada pengelolaan spiritual dan emosional. Salah satu implentasi dari olah hati yaitu dengan membiasakan pemberian motivasi kepada para siswa.Menurut Mc. Donald (Tabrani, 1992: 100), “motivation is energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction.” Motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dari perumusan yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu: 1) motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, 2) motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal), 3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Dalam implikasinya pada dunia belajar, siswa atau pelajar yang lapar tidak akan termotivasi secara penuh dalam belajar. Setelah kebutuhan yang bersifat fisik terpenuhi, maka meningkat pada kebutuhan tingkat berikutnya adalah rasa aman. Sebagai contoh adalah seorang siswa usia remaja yang merasa terancam atau dikucilkan baik oleh siswa lain mapun gurunya, maka ia tidak akan termotivasi dengan baik dalam belajar. Ada kebutuhan yang disebut harga diri, yaitu kebutuhan untuk merasa dipentingkan dan dihargai. Seseorang siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga dirinya, maka dia akan percaya diri, merasa berharga, marasa kuat, merasa mampu/bisa, merasa berguna dalam dihidupnya.

  1. 2.    Olah Karsa dan Rasa(Affective and Creativity development)

Olah rasa bermuara pada pengelolaan kreativitas. Perkins (1988) menyatakan kreativitas sebagai berikut : (1) suatu hasil kreatif adalah suatu hasil yang baru dan layak (2) seseorang kreatif (seseorang dengan kreativitas) adalah seseorang yang hampir secara rutin menghasilkan hasil kreatif (Perkins, 1988:311).

Pembelajaran kreatif senantiasa hadir pada kelas dimana kesiapan gurunya mengajar dan kesiapan muridnya belajar penuh.Memberikan warmer activity atau semacam simultan untuk menarik perhatian siswa dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengaplikasikan pembelajaran yang kreatif. Di mana Guru tidak langsung memberikan materi pada lima belas menit pertama. Simultan dapat berupa games atau quiz macam bingo, monopoly, singing ball, whispering activity, mime game, boom game, words zap, short movie, dan sebagainya. Sehingga ketika dirasa mereka sudah menikmatinya dan merasa siap, guru dengan mudah dapat mentransfer ilmunya.

  1. Olah Raga

Olah raga bermuara pada pengelolaan fisik.  Pengelolaan fisik dalam pembelajaran fisika bisa dengan pelaksanaan praktikum yang menarik. Selama ini semua hal yang berkaitan dengan praktikum mulai petunjuk praktikum sampai alat telah disediakan oleh laboran. Model tersebut memiliki kelemahan yaitu semangat untuk menggali pengetahuan siswa menjadi rendah, karena apapun yang dibutuhkan dalam praktikum telah disajikan.

Model baru yang diimplementasikan merupakan problem solving laboratory modifikasi dari problem based learning . Menurut Camp sebagaimana dikutip Bound & Ton (2005)Bentuk modifikasi yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan memberikan lembar kegiatan praktikum siswa yang harus dijawab pada kegiatan praktikum. Siswa diberikan pertanyaan yang merupakan bentuk aktivitas kegiatan praktikum sehingga pada akhirnya mampu menjawab tujuan praktikum. Model PSL ini lebih memupuk kemandirian siswa/praktikan, karena siswa diberikan keluasaan dalam kegiatan praktikum. Siswa tidak terpaku pada urutan percobaan seperti yang diberikan oleh panduan praktikum yang ada. Peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan mereviu pelaksanaan dan hasil percobaan. Dengan metode ini diharapkan siswa-siswa remaja semakin menikmati pembelajran fisika.

  1. Olah Pikir

Olah piker bermuara pada pengelolaan intelektual. Dalam pembelajaran fisika, pendidik menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi IPA. Misalna saja Piala Dunia sepak bola yang hampir 80 % penduduk dunia menikmatinya, dimana tanpa disadari tendangan penalti dan tendangan lainnya berkaitan dengan konsep gerak parabola dan gerak peluru. Penyampaian pembelajaran fisika dengan metode tersebut akan membuat para siswa tidak menjadi bosan.

DAFTAR PUSTAKA

Arnadi Arkan.2006. Strategi Penanggulangan Kenakalan Anak-Anak Remaja Usia Sekolah.

Bound, J., & Ton, P. 2005.. Departement of Materials Queen Mary University of London.

Daniel Goleman. 2011. Dikutip dalam http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademi-anak/ diakses pada hari Kamis, 21 Juni 2012 pukul 22.39 WIB

Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat (2001). Buku Pedoman Umum TimPembina, Tim Pengarah & Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa. Direproduksi olehProyek Peningkatan Kesehatan Khusus APBD 2002.

Hurlock, E.B (1998). Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo &Istiwidayanti. Jakarta: Erlangga

Kalimantan: Ittihad Jurnal Kopertis Wilayah XI Kalimantan

Pusat Kurikulum.2002.Panduan pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu. Balitbang:Depdiknas

Perkins, D.N. 1981. The Mind’s Best Work. Cambridge, MA : Harverd University Press.

Ratna Megawangi. 2007. Semua Berakar Pada Karakter. Jakarta: FE-UI.

Sarlito Wirawan Sarwono.1994 .Psikologi Remaja. Jakarta :Raja Grafindo Persada

Sudarsono, 1991 Etika Islam tentang Kenakalan Remaja, Rineka Cipta, Jakarta

Sulistiyono. (1998). Efektivitas penggunaan media modul tercetak dan media transparasi serta media konvensional untuk pokok bahasan tata surya dalam pengejaran fisika kelas 2 SMU Negeri 1 Seyegan tahun ajaran 1997/ 1998. Skripsi. FPMIPA IKIP  Yogyakarta.

Tabrani Rusyan. 2001. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Zakiah Daradjat, 1974 Problem Remaja di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta

One thought on “OLAH TIKAR R2Π(PI) (HATI, KARSA, RASA, RAGA DAN PIKIR) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI PERILAKU REMAJA DALAM PEMBELAJARN FISIKA

  1. Pendidikan Karakter untuk Mengatasi Perilaku Remaja dalam Pembelajarn Fisika, fenomena yang terjadi sekarang ini sangat terpengaruh sekali oleh social media yang semakin hari semakin bertambah penggunanya di indonesia terutama para remaja, pendidikan karakter terbaik berawal dari rumah & Keluarga, dalam hal ini pengawasan ortu sangatlah penting. salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>