Pendidikan Karakter dalam Tembang Dolanan “Lir-Ilir”

 

Oleh: Siti Nurjannah

 

Sekarang sudah jarang terdengar anak-anak menyanyikan tembang-tembang dolanan, bahkan hampir tidak ada lagi yang mau menyanyikannya. Anak-anak lebih suka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang kurang cocok dengan mereka. Hal ini dikarenakan setiap hari mereka sering mendengarkan lagu-lagu orang dewasa yang sering diputar baik di radio maupun di televisi. Mendengarkan lagu-lagu orang dewasa menyebabkan pendewasaan dini yang tidak baik untuk karakter anak. Pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini pada anak mengingat pentingnya pendidikan karakter bagi anak.

Menurut Thompson pendidikan adalah pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sifatnya. M. J. Longeveled mengemukakan bahwa pendidikan merupakan usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak agar tertuju kepada kedewasaannya, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Sedangkan menurut Edgar Dalle pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung disekolah dan diluar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.

Sedangkan karakter secara harfiah artinya kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi (Hornby dan Parnwell, 1972: 49). Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seorang dari yang lain, tabiat, watak. Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010). Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.

Pendidikan karakter menurut DR. Achmad Husen, M. Pd dkk, (2010) adalah upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, serta adat istiadat. Sedangkan menurut Thomas Lickona (1991) pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Salah satu cara menerapkan pendidikan karakter pada anak salah satunya dengan tembang dolanan. Mengapa mengunakan tembang dolanan sebagai pendidikan karakter? Tembang Dolanan adalah salah satu kebudayaan Jawa dimana didalamnya mengandung nilai-nilai pendidikan yang baik untuk anak. Tembang dolanan bisa digunakan sebagai sarana berdakwah, menyampaikan nasehat maupun digunakan dalam permainan. Tembang dolanan cocok dinyanyikan semua kalangan baik anak kecil, remaja maupun orang dewasa. Tembang dolanan diera 90an masih sering terdengar apalagi di malam hari banyak anak kecil ketika padhang mbulan ‘terang bulan’ sering berada diluar rumah untuk bermain dengan teman-teman sambil menyanyikan tembang-tembang dolanan seperti jamuran, cublak-cublak suweng, gundhul-gundhul pacul, menthok-menthok, padhang mbulan, lir-ilir dll.

Lir-ilir adalah salah satu tembang dolanan yang mengandung 18 pilar karakter.

Lir-ilir, llir-ilir, tandure wis sumilir

‘Bangunlah, bangunlah, tanaman sudah bersemi’

Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar

‘Warnanya menghijau, Ibarat penganten baru’

Cah angon, cah angon penekna blimbing kuwi

‘Anak gembala, anak gembala, panjatlah blimbing itu’

Lunyu-lunyu penekna kangggo mbasuh dodotira

‘Walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci kainmu’

Dodotira-dodotira kumitir bedah ing pinggir

‘Pakaianmu, pakaianmu terkoyak bagian samping’

Dondomana, jlumantana, kanggo seba mengko sore

‘Jahitlah dan benahilah untuk menghadap nanti sore’

Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane

‘Ketika rembulan bersinar terang, luasnya tempat untuk bermain’

Sung suraka surak hore

‘Ayo bersorak, bersorak hore’

Pada lirik-lirik tembang dolanan diatas tidak hanya sebatas tembang atau lagu yang hanya dinyanyikan saja melainkan mengandung makna dan nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam 18 pilar karakter pada tembang lir-ilir yaitu nilai religius, disiplin, kerja keras, mandiri, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, menghargai prestasi, cinta damai, peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai religius yang terkandung dalam tembang “Lir-ilir” yaitu hampir disetiap liriknya mengandung unsur religi. Makna tembang tersebut bermakna perlambang kehidupan, maka yang dimaksud lir-ilir mempunyai

pengertian iman manusia agar bangun dan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan dan menata hidup. Tandure wus sumilir orang yang tidak punya pegangan hidup/ agama maka tidak tahu arti kehidupan yang sebenarnya. Tak ijo royo-royo mengandung makna warna hijau adalah warna khas kejayaan Islam. Tak sengguh pengantin anyar bermakna agama Islam yang diajarkan pada masa itu merupakan ajaran baru dan yang mempelajarinya akan mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik. Cah angon-cah angon, penekna blimbing kuwi, cah angon diibaratkan seorang pemimpin sedangkan blimbing adalah buah yang mempunyai lima sisi sebagai lambang lima rukun Islam dan shalat lima waktu. Kanggo seba mengko sore, bermakna menjalankan agama secara benar untuk bekal menghadap Allah pada saat manusia meninggalkan dunia fana. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane mengandung makna selagi tempat masih luas dan selagi masih banyak waktu dan kesempatan manusia harus memperbaiki kehidupan beragama. Sung suraka, surak hore bermakna siapa saja yang melihat petunjuk itu akan merasa senang dan damai.

Nilai karakter disiplin dalam tembang dolanan di atas dapat ditunjukkan pada lirik kqnggo seba mengko sore. Dari lirik tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dalam beragama Islam tidak boleh meninggalkan kewajiban yaitu shalat. Dengan mengerjakan shalat akan menumbuhkan rasa disiplin di dalam diri karena telah berusaha mengerjakan kewajiban dalam beragama. Kerja Keras, dalam tembang dolanan “Lir-ilir” mengandung makna berkarakter kerja keras dibuktikan dengan kata “Lunyu-lunyu peneken” yang berarti meskipun licin dan sulit tetap harus memanjat. Dari sini bisa dilihat bahwa dalam mencapai sesuatu kita harus berusaha semaksimal mungkin berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan meskipun banyak halangan dan rintangan. Kalimat tersebut juga bermaksud agar kita tegar menghadapi apapun yang akan terjadi. Mandiri, dalam tembang dolanan “Lir-ilir” mengandung makna mandiri dibuktikan dengan kata “Domana jlumantana” yang artinya jahitlah dan benahilah. Dalam kata jahitlah dan benahilah mengandung makna mandiri yaitu kita harus mencoba membenahi dan memperbaiki sendiri terlebih dahulu kesalahan yang pernah dilakukan. Apabila kita bisa melakukannya sendiri maka kita tidak perlu merepotkan orang lain.

Rasa ingin tahu, dalam tembang di atas juga mengandung makna rasa ingin tahu yang dibuktikan dengan lirik penekna blimbing kuwi yang artinya panjatkan blimbing itu. Blimbing yang mempunyai lima sisi bisa diibaratkan dengan rukun islam yang lima serta ilmu pengetahuan yang bisa diperoleh dari berbagai sisi. Penekna blimbing kuwi bisa berarti kita harus mempelajari rukun islam yang lima serta mencari ilmu pengetahuan dari berbagai sisi kehidupan sehingga kita bisa mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Nilai karakter semangat kebangsaan dalam tembang dolanan “Lir-ilir” dapat dibuktikan pada lirik “Lunyu-lunyu peneken” yang berarti meskipun licin dan sulit tetap panjatlah. Di sini bisa dilihat bahwa dalam mencapai sesuatu kita harus berusaha semaksimal mungkin dan semangat yang luar biasa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan meskipun banyak halangan dan rintangan yang menimpa. Dengan semangat yang tinggi bisa menimbulkan sikap kebangsaan sehingga meskipun banyak jalan yang berliku tetap akan dilalui untuk mencapai impian dan tujuan bangsa.

Menghargai prestasi, dalam tembang dolanan “Lir-ilir” mengandung makna menghargai prestasi dibuktikan dengan kata “Ya soraka, sorak hore” yang berarti ayo bersorak hore. Disini membuktikan bahwa apabila kita sudah melakukan sesuatu hal maka kita harus mensyukuri dan menghargainya. Cinta damai, dalam tembang dolanan “Lir-ilir” mengandung makna cinta damai dibuktikan dengan kata Tandure wus sumilir yang berarti tanamannya sudah bersemi. Tanaman yang bersemi bisa diibaratkan memulai kehidupan yang lebih baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk, sehingga dalam menjalani kehidupan akan terasa lebih mudah dan merasa damai karena tidak terbebani oleh kehidupan yang buruk. Karakter peduli sosial yang tercermin dalam tembang dolanan di atas dapat

ditunjukkan pada lirik kanggo basoh dodotira, ini berarti bahwa dalam berbuat kebaikan juga selalu mengingatkan orang lain untuk melakukan kebaikan. Jadi jika melakukan suatu perbuatan tidak hanya dilakukan untuk kepentingan sendiri tetapi orang lain juga harus di ajak untuk melakukan suatu kebaikan. Tanggung jawab, dalam tembang dolanan “Lir-ilir” mengandung makna tanggung jawab dibuktikan dengan kata “Kumitir bedhah ing pinggir dan Domana jlumantana” yang berarti terkoyak dibagian samping, jahitlah dan benahilah. Ini mengandung makna bahwa apabila kita melakukan suatu perbuatan yang bisa berakibat buruk maka kita harus mencoba untuk berhenti melanjutkan perbuatan tersebut. Dan setelah kita menyadari bahwa perbuatan kita bisa membawa dampak yang kurang baik maka kita harus berusaha memperbaikinya dan tidak boleh melarikan diri dari perbuatan yang pernah kita perbuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>