Penerapan Teknologi dalam Mewujudkan Karakter Indonesia yang Ideal

by : Umi Khoeriyah

Karakter secara umum sering diidentikkan dengan identitas dikarenakan sifatnya yang sulit melekat pada sesuatu dan sulit dihilangkan. Sebagai gambaran, perempuan muslimah berkarakter fisik dengan hijab yang menutupi tubuhnya sehingga hijab tersebut didentikkan sebagai identitas setiap perempuan muslimah. Jika penggambaran tersebut diterapkan pada negara Indonesia, secara faktual, karakter kental yang berkontribusi besar dalam menaikkan peringkat Indonesia di kancah internasional adalah karakter korupnya. Memalukan memang, tetapi inilah kondisi empiris yang tak bisa dielakkan. Akarnya seolah telah begitu dalam menghujam sehingga sesering apapun diberantas, proses pertumbuhan dan duplikasinya kian subur. Dengan karakter tersebut, relakah sebagai warga  negara Indonesia  menyandang identitas negara koruptor atau negara terkorup? Selain korupsi bahkan banyak karakter Indonesia diantaranya perkelahian antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan lain sebagainya. Walaupun bangsa Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang ramah namun berbagai karakter buruk seperti yang telah disebutkan diatas juga tidak bisa dilepaskan dari bangsa Indonesia.

Penanaman karakter seolah begitu gencarnya dipropagandakan terutama di kancah dunia pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan karekter sehingga lembaga pendidikan formal Indonesia menginfiltrasikan pendidikan sebagai sebuah dimensi yang esensial. Upaya penanaman karakter pada pendidikan formal misalnya dengan adanya mata pelajaran pancasila dan kewarganegaraan yang pada dasarnya menanamkan nilai-nilai moral yang sesuai dengan sila-sila dalam Pancasila. Proses penanaman nilai tersebut bahkan terus berlangsung hingga perguruan tinggi ditandai dengan eksistensi object lesson tersebut di setiap jenjang pendidikan. Kenyataannya, sejauh ini hanya ironi yang didapat. Mata pelajaran/kuliah tersebut tak lebih dari teori yang harus berulangkali dihafal, dengan kata lain benih tersebut hanya ditabur dipermukaan.

Menancapkan benih karakter seharusnya dilakukan dengan adanya kesadaran, pembiasaan, dan akan lebih optimal jika dengan sesuatu yang menyenangkan sehingga disukai, bukan karena suapan teori yang bisa dianalogikan sebagai batas estafet sebagai syarat yang harus dilalui yang hanya menghasilkan satu orang yang bisa sampai di tujuan akhir yang kemudian terlupakan setelah sampai di ujung kemenangan. Menanamkan karakter seharusnya berorientasi pada penghujaman karakter tersebut pada seseorang sehingga karakter yang ditanamkan tidak lekas hilang. Oleh karena itu, penanaman karakter harus dilakukan sedini mungkin dengan disesuaikan dengan hal-hal yang disukai anak sehingga pemebentukan kebiasaan menjadi mudah  karena dengan adanya unsur rasa suka akan memberikan efek yang lebih optimal. Pendalaman karakter ini bisa dikaitkan dengan kehadiran teknologi pada setiap proses penanaman karakter. Dengan bimbingan yang tepat, teknologi bisa menjadi faktor pendukung proses penanaman karakter.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal yang bersinggungan dengan teknologi pasti digemari karena teknologi memberikan kesan modernitas. Penanaman karakter yang melibatkan teknologi cenderung mudah diterima bagi anak. Penanaman karakter ini tentu harus dengan pengarahan yang benar.  Dengan pengarahan yang benar akan menghindarkan anak melakukan “coba-coba” tehadap teknologi ini yang memungkinkan anak tersesat pada hal-hal yang negatif. Teknologi yang layak dikenalkan pada anak sedini mungkin diantaranya handphone dan internet. Sekali lagi segala bentuk teknologi tidak bisa dilepaskan dari dampak negatifnya. Satu-satunya jalan yang mungkin untuk meminimalisir penyalahgunaan teknologi adalah dengan adanya bimbingan pada saat pengenalan teknologi itu. Handphone misalnya, selain berfungsi sebagai alat komunikasi, pengenalan selanjutnya bisa merambah ke barbagai fungsi yang ada padanya misalnya penggunaan alarm diarahkan untuk dibunyikan pada waktu pagi sehingga anak tidak bangun terlambat, hal ini merupakan salah satu proses penanaman kedisiplinan. Adanya fasilitas music player bisa diarahkan untuk memperdengarkan hal-hal positif seperti tilawah atau hal-hal yang berbau keagamaan sebagai penanaman nilai keagamaan. Internet mempunyai fungsi yang lebih luas diantaranya dengan adanya search engine. Adanya fasilitas ini akan menimbulkan semangat bagi anak untuk mencari tahu sesuatu karena semua bisa didapat dengan fasilitas ini. Untuk menghindari penyalahgunaan fasilitas ini bisa dilakukan dengan menyibukkan anak dengan memantik rasa keingintahuan anak dengan beberapa istilah baru dan merekomendasikannya untuk mencarinya di internet. Sekali lagi dengan pengawasan tentunya. Masih banyak lagi kegunaan positif internet yang berpotensi menanamkan karakter pada anak.

Kehadiran teknologi dalam berbagai hal sangat mendorong penanaman karakter pada anak. Bagaimanapun, teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan di era kehidupan sekarang ini. Barbagai variasi yang ditwarkan dengan adanya teknologi memang terkadang justru membawa dampak negatif. Akan tetapi, pendidikan karakter adalah pembangunan mental dan proses ini hanya bisa dilakukan dari usia dini. Menghindari teknologi bukanlah suatu solusi karena kenyataannya banyak sekali manfaat teknologi yang justru mendukung proses pendidikan karakter. Teknologi memang tidak bisa dijadikan benih penanaman karakter karena yang dibutuhkan dalam proses ini adalah afeksi yang menggerakkan psikologis sehingga benar-benar tertanam dalam mental anak. Teknologi, sekali lagi adalah faktor pendukung yang mumpuni dan memudahkan jika digunakan dengan pengarahan yang benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>