Senangnya Bisa Bersekolah

Oleh : Nita Tri Wahyuni

Ketika adzan shubuh mulai terdengar, ibu membangunkan kami untuk segera berwudhu dan bergegas shalat berjamaah. Itulah awal dari  rutinitas kami di pagi hari. Namaku adalah Delima. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahku adalah seorang petani, sedangkan Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang biasa membuat anyaman yang akan dijual ke kota dan bekerja membantu Ayah di sawah. Aku memiliki dua kakak, kakak pertamaku bernama Pandu sedangkan kakakku yang kedua bernama Sinta.

Usai melaksanakan shalat shubuh berjamaah, kami segera bergegas membantu ibu dan ayah melakukan pekerjaan rumah. Aku dan Kak Sinta bertugas membantu Ibu memasak di dapur, sedangkan Kak Pandu bertugas membantu Ayah membersihkan pekarangan rumah dan menyirami tanaman di kebun belakang rumah kami. Setelah itu, secara bergantian aku dan kakak-kakakku segera mandi dan mempersiapkan diri untuk bersekolah. Aku adalah siswa kelas 4 di Sekolah Dasar, sedangkan Kak Pandu dan Kak Sinta adalah siswa di Sekolah Menengah Pertama. Kak Pandu duduk sebagai siswa kelas 9, sedangkan kak Sinta baru kelas 7, mereka berdua bersekolah di SMP yang sama di desa kami.

Setelah selesai sarapan, kami berpamitan pada Ibu dan Ayah dan segera mengambil sepeda untuk pergi bersekolah. Aku biasa dibonceng Kak Sinta sementara Kak Pandu bersepeda sendiri. Kami bertiga selalu berangkat ke sekolah bersama, karena jarak antara sekolah kami tidak terlalu jauh. Ketika pulang sekolah, biasanya aku akan menunggu kakakku untuk pulang bersama atau pulang bersama teman yang rumahnya dekat dengan berjalan kaki.

Di sekolahku, terdapat 6 kelas, terdiri dari kelas 1-6. Pada tiap kelas terdiri dari 10-15 siswa. Jumlah guru di sekolahku hanya ada 6 orang. Ruangan kelas, sarana dan prasarana yang ada di sekolah kami meskipun begitu sederhana, tetapi sangat membantu kegiatan belajar kami di sekolah. Guru-guru yang mengajar di sekolah kamipun, begitu baik, sabar dan selalu memotivasi kami untuk bersemangat dan rajin dalam belajar.

Pelajaranku hari ini di sekolah adalah IPA dan Bahasa Indonesia. Pada pelajaran IPA, Bu Rinti mengajar tentang tumbuhan monokotil dan dikotil, lalu memberi tugas pada siswa untuk mengamati  dan mengelompokkan tumbuhan mana saja yang ada di sekitar halaman sekolah kami yang termasuk dalam tumbuhan monokotil dan dikotil tersebut. Saat tugas itu diberikan, kami langsung berhamburan keluar kelas menuju halaman sekolah untuk mengamati tumbuhan-tumbuhan sekitar. Kami asyik mengamati tumbuhan-tumbuhan tersebut, sesekali bertanya pada Bu Rinti atau teman di dekat kami mengenai nama dan jenis tumbuhan yang sedang kami lihat. Dengan sabar, Bu Rinti selalu menjawab pertanyaan kami dengan lemah lembut.

Sedangkan pada pelajaran Bahasa Indonesia diampu oleh Pak Mardi. Selain bertugas sebagai guru, Pak Mardi juga berperan sebagai Kepala Sekolah. Selain itu, Beliau tidak hanya mengajar Bahasa Indonesia tetapi juga IPS. Dalam mengajar, beliau selalu menyampaikan pelajaran dengan cara yang sederhana, menarik dan mengarahkan kami untuk  mempraktikannya. Itulah yang membuat murid-murid di sekolah menjadi senang dan bersemangat mengikuti pelajaran beliau. Sikap beliau yang begitu ramah, santun, penuh kasih sayang serta senantiasa memberikan kami kalimat motivasi dalam mengajar membuat beliau menjadi guru favorit  di sekolah, termasuk bagiku. Oleh karena itu, pelajaran Bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang selalu ku tunggu-tunggu.

Pada saat membuka pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Mardi mengucapkan salam, mengabsen lalu mulai mengajar. Pelajaran kami hari ini adalah mengarang. “Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang mengarang,” kata Pak Mardi.

“Apakah diantara kalian, ada yang tahu apa itu mengarang atau bahkan sudah ada yang pernah mengarang?” tanya beliau kembali sambil memandangi kami yang saling menatap bingung.

“Mengarang itu seperti kalian bercerita tentang sesuatu tetapi dalam bentuk tulisan”.

“Jadi cerita kita ditulis di buku tulis Pak?” Tanya Tomi.

“Benar sekali, nak”.

“Oh, jadi begitu ya, Pak” seru kami.

Setelah beliau menyampaikan secara ringkas mengenai mengarang. Beliau memajang sebuah gambar di papan tulis dan menyuruh kami membuat suatu karangan berdasarkan gambar tersebut lalu mengumpulkannya untuk dibacakan oleh Pak Mardi di depan kelas.

“Nah, anak-anak, sekarang buatlah sebuah karangan berdasarkan gambar yang Bapak pajang di papan tulis ini” kata Pak Mardi. Kamipun berusaha mengamati gambar tersebut dan mulai mencoba mengarang. Secara umum gambar tersebut berisi tentang pemandangan para petani yang sedang bekerja di sawah, juga ada ibu-ibu yang mempersiapkan makan siang di saung dekat sawah dan anak-anak kecil yang bermain di sekitarnya. Hal yang menarik adalah dengan satu gambar tersebut ternyata kami bisa menghasilkan sebuah karangan dengan imajinasi yang berbeda-beda.

Tak terasa waktupun berjalan begitu cepat, waktu yang diberikan Pak Mardi untuk mengarang sudah habis. Kamipun mengumpulkan buku kami di meja Pak Mardi dan beliau mulai membacakan karangan kami satu per satu. Beliau begitu kagum dengan hasil karangan kami, terkadang beliau tertawa ataupun diam sejenak ketika membacanya lalu memuji kami dengan penuh penghargaan.

“Anak-anak, karangan kalian sungguh menarik dan bagus, Bapak begitu kagum dengan kalian.”

“Nah, untuk PR kalian, buatlah suatu karangan tentang kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar kalian dalam satu halaman kertas”.

“Pada pertemuan selanjutnya, karangan kalian itu kalian ceritakan pada teman-teman kalian di depan kelas”.

“Baik, Pak” seru kami.

            Lonceng sekolahpun berbunyi, saatnya kami untuk pulang. Segera setelah itu, ketua kelas mulai memimpin doa untuk pulang dan berpamitan pada Pak Mardi. Kamipun langsung berlarian ke luar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika sampai di gerbang sekolah, aku melihat Kak Sinta dan Kak Pandu yang sudah menungguku untuk pulang. Lalu, kami bertiga bergegas menaiki sepeda menuju ke rumah.

            Selama perjalanan aku bernyanyi dengan riang gembira. Aku tidak sabar untuk menceritakan hariku di sekolah pada Ibu dan Ayah.

“Delima, kamu kelihatannya senang sekali hari ini?” tanya Kak Pandu.

“Iya, kamu ceria sekali Delima, dari tadi kamu bernyanyi riang” sahut Kak Sinta.

“Hehe, iya kak. Tadi di sekolah Delima belajar tentang tumbuhan  dikotil dan monokotil serta mengarang”.

“Delima tadi bersama teman-teman sekelas mengamati berbagai tumbuhan di sekitar sekolah, menuliskan namanya dan mengelompokkannya ke dalam tumbuhan dikotil atau monokotil. Lalu, pada pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Mardi mengajari kamu untuk membuat suatu karangan berdasarkan gambar yang beliau berikan.”

“Wah, kelihatannya seru juga” sahut Kak Sinta.

“Iya kak, ternyata memang menyenangkan” Aku berseru.

            Sesampainya di rumah, Ayah dan Ibu sudah menunggu kami. Kami segera memasukkan sepeda ke rumah, berganti pakaian, shalat berjamaah dan makan siang bersama. Suasana makan siang kami terasa begitu hangat dan ramai, kami sibuk dengan makanan kami masing-masing, sesekali Ibu dan Ayah bertanya tentang bagaimana hari kami di sekolah,  menambah ramai suasana makan siang saat itu. Aku yang paling bersemangat bercerita tentang hariku di sekolah pada Ibu dan Ayah. Ayah dan Ibupun bahagia mendengarnya dan menyemangatiku untuk rajin dalam belajar.

Bagiku sekolah selalu menjadi tempat yang menyenangkan selain di rumah. Di sekolah, aku dapat belajar dan bermain dengan teman-teman serta mendapatkan banyak ilmu pengetahuan yang berguna. Aku begitu bahagia dan bersyukur bisa bersekolah. Aku bertekad untuk terus bersekolah, mencari ilmu pengetahuan baru, meraih cita-citaku dan berusaha memberikan yang terbaik untuk membahagiakan Ibu dan Ayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>