Solusi Membangun Negeri

Oleh: Amin Raharjo_Pendidikan Sejarah 2013

Bagi seorang mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menurut pandangan saya ialah dengan menerapkan asas-asas luhur yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita. Seperti nilai-nilai yang terkandung dalam tata krama, sopan santun, serta gotong royong. Semua itu merupakas pilar utama dalam membentuk kepribadian generasi penerus bangsa. Mengutip perkataan Ir.Soekarno yang mengatakan bahwa “Berikan aku seribu orang tua, maka akan kucabut puncak semeru, Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”. Anggapan tersebut masih relevan hingga saat ini. Karena segala permasalahan yang terjadi dalam dinamika suatu bangsa ialah dapat diatasi jika generasi muda memiliki kepedulian sosial terhadap dirinya pribadi serta dengan lingkungan sosialnya.

Selain itu, Kahlil Gibran juga mengungkapkan bahwa “Betapa celaka bangsa yang tak berani meyampaikan kata-kataanya sendiri, kecuali bila telah bergandengan mesra dengan liang kubur. Bangsa yang tak menyimpan KEBANGGAAN kecuali ketika sedang tengkurap diantara puing-puing kehancurannya. Bangsa yang tidak menggeliat bangkit kecuali manakala batang lehernya telah dikalungi oleh mata pedang dan tempat pemancungan”.

Pembentukan karakter bangsa yang memiliki keberanian dalam mengugkapkan kritik serta memiliki rasa kebanggan terhadap negerinya dapat memupuk rasa nasionalisme, yang tentunya akan mewujudkan semangat kebangkkitan dari keterpurukannya. Berbeda dengan keadaan saat ini, yang terlihat adalah reaksi dari generasi muda dan mayoritas masyarakat yang bersikap acuh tak acuh, sehingga membuat negeri ini semakin sekarat dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.

Permasalahan mengenai penegakan hukum yang berlaku di Indonesia selalu menjadi perbincangan favorit. Kebanyakan dari masyarakat maupun dari kalangan akademis sendiri biasanya lebih memadang persoalan ini sebagai kesalahan dari pemerintah semata. Untuk membangun negeri diperlukan berbagai partisipasi dari semua kalangan yang memiliki dedikasi serta pengabdian yang nyata dengan tidak bersikap acuh tak acuh terhadap masalah yang ada dalam masyarakat.

Kebiasaan gotong royong yang telah lama ada dalam budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita hendaknya dibangkitkan kembali. Karena pengaruh dari modernisasi sehingga membuat kebiasaan gotong royong tersebut secara perlahan menjadi hilang. Dengan demikian maka untuk membangun negeri impian yang memiliki tata kelola yang teratur maka diperlukan partisipasi nyata dari semua elemen masyarakat yang bersatu padu dalam satu ikatan nasionalisme serta memiliki rasa kebanggaan akan kelebihan yang dimiliki oleh negerinya, tanpa memandang segala perbedaan yang dimiliki.

(#rhj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>