TENTANG SEBUAH PERJALANAN

Kami menangis. Di zaman yang berluluran debu
Kami menjerit. Dibawa pusara peradaban yang menggelap
Suara hati demi suara hati kami ukir di sudut mata
Hingga kami merasa rapuh. Bagai embun yang habis tergilas panas matahari
Telah kami panjatkan munajat. Di bawah bulan yang meninggi
Namun kalian belum juga mendengar
Di mana lagi kami harus bersandar dan membagi zaman
Sedang kalian membiarkan kelalaian dan kesesatan memeluk kami….

Diiringi nyala kerlip lilin yang berjilatan serta suara angin yang merangkak menaiki malam, aku merenung. Catatan zaman yang tersusun rapi di mejaku telah menceritakan sejarah dari masa ke masa. Aku sentuh perlahan, aku khawatir akan menyobek lembaran penuh makna yang kini telah dilupakan oleh banyak manusia. Lembar demi lembar menawarkan bau khas yang sedikit mengganggu penciumanku.
Kegelapan malam ini mengingatkanku akan kenangan lalu. Masa di mana hidup masih terasa sederhana. Mana kala setiap atap masih memiliki goresan kanvas biru yang menenangkan sukma dalam renungan, membina diri dalam kebaikan. Menyiapkan langkah kaki bagi anak zaman agar seberapapun jauh ia melangkah, ia akan tetap terjaga.
Aku masih tak mampu menunggu mentari esok akan datang. Di kepekatan malam ini juga aku berniat pergi lebih jauh, melintasi batas-batas peradaban. Mendaki waktu menuju pelosok-pelosok sejarah. Setelah semakin jauh, aku menghentikan langkahku. Berhenti di mana tempat dan zaman berpihak padaku. Aku tercengang melihat keadaannya. Sebuah masa yang telah meninggi, namun di lain tempat aku juga menemukan tempat yang sangat rendah. Persis seperti musuh, saling membelakangi.
Aku juga melihat hiruk pikuk, kericuhan di sana sini dan janji-janji berkobar yang nantinya akan hangus dibakar kata-katanya sendiri. Serta pada akhirnya mereka jugalah yang merebut hak-hak yang diberi janji.
Aku terus tenggelam menapaki tempat yang sebenarnya tak asing bagiku. Mencoba mencari jawaban akan pertanyaan yang baru saja menyelinap dalam hati. Pertanyaan yang tak mampu kumengerti. Ku coba tanyakan pada ringkihan dingin malam yang semakin getir. Tetapi tak satupun isyarat yang mampu kutangkap. Aku terus mengembara mencari ketulusan yang mungkin masih tersisa di balik ranting-ranting waktu, berharap menemukan alasan sejauh apakah peradaban manusia telah berlalu, beralih menjadi seram, kejam dan menakutkan. Hanya sunyi yang kudapat. Tak ada getaran suara yang bisa kugenggam. Bahkan jangkrik pun langsung membisu mendengar hatiku yang bertanya-tanya.
Dengan membawa beban kecewa, aku terus saja menanti sebuah jawaban akan usikkan hatiku yang semakin menjadi. Jalanku kian tak menentu. Menyeret gejolak di hati. Terpecah dan semakin jauh dibawa terpaan angin yang dingin dan membelenggu. Berharap akan ada tempat di mana embun jatuh menari menyegarkan dahaga dan fajar yang membentang menghangatkan keadaan.
Kaki yang kian rapuh dimakan waktu, masih kupaksa menitih jalanan. Sampai kutemui sekelompok makhluk yang morfologinya sama denganku. Manusia. Ya, itu manusia sepertiku. Di tengah keberadaan mereka, tiba-tiba aku tersungkur. Rupanya tulang kakiku mulai meleleh dibakar panasnya hembusan udara yang mengalir dari mulut-mulut para penghianat. Aku berharap akan ada sepasang bahu yang rela merengkuh dan menopang tubuhku. Namun satupun tak ada yang datang. Mereka seolah tak peduli dan berlagak tak tahu menahu. Rupanya ego telah menggelapkan segalanya, pikirku.
Segenap napas kucoba eratkan kembali. Aku ingin menegaskan kerisauan hati yang tertahan. Meyakinkan diri, selama nyawa masih terjaga, aku akan terus mampu berjalan.
Kini aku beralih tempat yang lebih ramai. Aku temui para pembentuk calon penggenggam dunia. Ya, aku menemui mereka yang katanya akan melahirkaan generasi penggenggam dunia. Tapi sayang, wajahnya tak lagi memancarkan warisan tangan-tangan yang lihai meluluhkan isi dunia. Wajahnya penuh ragu. Aku tak yakin mereka akan mampu melahirkan penggenggam dunia dan menggerakkan peradaban kehidupan.
Dalam kubangan manusia yang ramai itu, sesekali aku mendengar tawa yang membeku dan sesekali pula aku mendengar tangisan yang mendidih. Membakar cabang-cabang waktu yang akan datang. Hatiku semakin risau. Aku bingung, dan lantas aku bertanya pada masa yang kosong, “Apa ini? Aku semakin tak mengerti dengan jalan pikiran manusia-manusia ini!” Suasana tetap lengang. Tak ada pita suara yang mampu menghasilkan bunyi, atau anggota tubuh yang mampu menyampaikan pesan. Semua menjadi bungkam, kecuali sinar matahari yang terus berusaha menusuk ke dalam tenggorokan.
Aku kembali merangkak dengan helaan napas yang semakin melemah. Mataku beralih menjauh. Kususuri jalanan yang berhiaskan pijaran kerlip lampu dikepekatan malam yang baru saja menghitam. Di jalan-jalan inilah aku temui banyak wajah yang lebih suka bermesraan dengan dunia maya ketimbang dunia nyata, berpelukan dengan kemewahan dan kenyamanan yang melalaikan tanggung jawab. Mereka lupa, bahwa ada anak zaman yang merindukan sentuhan tangan dan paras lembut untuk mengajari cara menguasai waktu.
Hari ini, dengan sengaja aku mengikuti jejaknya di belakang wajah palsunya. Hingga kaki-kaki ini berhenti sejenak di hadapan sebuah ruang di balik daun pintu. Ia membukanya. Terlihat tampak puluhan pasang mata merengek meminta ajaran tentang kehidupan. Bukan tentang sesuatu yang harus dilakukan, namun sesuatu yang didapatkan. Belajar.
Sepasang mataku ikut menyatu dalam jerat suasana keheningan. Segenggam kata-kata yang melekat pada mulutnya tak mampu menghapus dahaga otak-otak yang haus ilmu. Omong kosong! Penipuan!
Aku mampu meresapi rasa kecewa yang dimuntahkan mereka, para penanggung masa depan. Tangisannya mengkristal di hati. Membentuk gunungan dendam yang mungkin akan meletus ketika dirinya paham akan masa depannya yang mulai hancur. Di kutub hatinya kudengar jeritan yang menghujam dalam, kata-katanya membumbung tinggi ke batas cakrawala. Seolah menguasai segala kosakata yang ada dalam kitab-kitab kehidupan. Rintihannya mengisyaratkan kepedihan.
“Kau, selalu memberi kami berlembar-lembar tulisan, kemudian meninggalkan kami dan datang saat masamu habis pada hari-hari tertentu, biasanya dikala langit menggelap. Kau, tak adakah keinginan dari hatimu untuk mengajari kami? Kau selalu pentingkan pekerjaan lain, engkau juga katakan itu pertemuan atau rapat penting. Kau, tugas utamamu adalah mendidik kami, menjaga kami, bukan membiarkan kami terpontang panting dalam ketidaktahuan kami. Bahkan jika aku menangis dan merengek, engkau selalu bilang “jangan cengeng, sekarang murid harus bisa belajar sendiri tanpa gurunya.” Lalu, apa guna kami sekolah? Ijazah? Nilai? Atau apa? Kau! jangan-jangan kau tak mampu menunjukkan jalan yang benar untuk kami. Kau, apa kau tak takut jika kelak kami tersaruk-saruk di masa mendatang?
Tahukah engkau? Aku bercita-cita menghimpun cahaya di masa depan. Namun kau telah memberiku kegelapan di masa belajarku. Jangan salahkan jika nanti kami dewasa, kawan kami berkumpul di dunia gemerlap. Tempat yang katanya banyak himpunan pemuda pemudi nakal. Namun merekalah yang sudi mendengar curahan hati kami. Pun ketika kami nantinya akan jadi pemimpin, kami akan jadi pemimpin yang bersenang-senang di atas penderitaan rakyat. Ya sepertimu itu. Seenaknya sendiri. Menindas penuh janji-janji yang dikotori kebohongan. Dan untuk semuanya, bersiaplah! Karena apa yang kau pijak selama ini akan hancur di tangan kami! Dan kami tertawa!”
Aku semakin merendah membaca tangisnya. Dan kusimpulkan sendiri. Jawaban atas pertanyaanku adalah kegagalan. Ya, kegagalan dalam menanamkan pendidikan dan mendidik.
Kutanya kembali dalam jiwaku yang ikut mengerang. Duhai siapakah yang memiliki ketulusan yang bersemayam dalam jiwa untuk mengajarkan kehidupan pada mereka? Menyapu partikel debu yang menumpuk dan menggelap di lubang harapan dan mimpi mereka. Yang paling dekat dengan mereka kini menjauh. Harapannya kini, yang jauh akankah sudi mendekat. Mengusap tangis dan menyembuhkan pedih yang berat diembannya. Mengantarkan pada jalan terang kehidupan abadi. Mematangkan jiwa-jiwa mereka agar mampu menilai hidup. Ketulusan itu, siapakah yang mampu membaginya?
Terbesit dalam hati akan bayangan abu-abu yang semakin bertambah jelas. Pendidik. Ya, guru atau pendidik sejati yang dapat menuntun mereka. Aku diam… Mungkin ini jawaban sementara yang dapat kutangkap. Masih menunggu keyakinan.
Sejak saat itu, aku mencoba mengais keyakinan. Aku belajar akan arti manusia dalam mendidik dan mengembangkan bangsanya serta menjaga peradaban. Saling mengasihi dan menebar kebaikan yang tak kenal alasan.
Waktu demi waktu kulalui. Menjelajah semakin larut. Mengunci tekad. Mencoba menempa jiwa yang terlanjur memilih bergerak untuk masa depan. Pengabdian-pengabdian sejati yang lahir dari ketulusan dan kesederhanaan nanti yang akan mewarnai kehidupan mereka. Biarlah sekarang menanggung lelah yang esok akan hilang, namun kebaikannya akan terus abadi sepanjang zaman.
Diperjumpaan yang menanti, akan kita buat ikatan dengan mereka. Ikatan yang tidak mengalir pada darah yang sama. Namun akan menjulang tinggi memenuhi seluruh isi bola dunia. Erat mengokohkan peradaban bangsa ini, bangsa merah putih.
Tiba didenting waktu yang menunjuk pada angka 2 dini hari, memaksaku pulang dari perjalanan malam ini. Kututup kembali catatan sejarah dengan rapi sambil kuusap sisa rintihan yang melembabkan pucuk mataku.
Aku yakin esok akan ada mentari yang lebih memukau. Juga sebuah harapan akan pertemuan yang semakin dekat. Tempat menyebar kasih ke seluruh dunia. Penghujung kota bahkan tempat-tempat terpencil.

Karya: Mekar Maratus S

One thought on “TENTANG SEBUAH PERJALANAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>