Timbal Dapat Menurunkan Kecerdasan Anak

Lingkungan merupakan segala sesuatu di sekitar kita yang erat kaitannya dengan aktivitas keseharian manusia. Lingkungan menjadi syarat mutlak bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya terkadang menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Dampak tersebut bisa berupa dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu dampak positif akibat aktivitas manusia misalnya, adanya pengelolaan sistem tata kota dan penghijauan, sedangkan dampak negatifnya adalah menurunnya kualitas lingkungan hidup.

Dewasa ini, aktivitas manusia semakin tergilas oleh tuntutan zaman. Kemajuan teknologi yang semakin meroket, memaksa bangsa ini untuk terus mengikuti arus globalisasi. Pembangunan yang kian pesat pun dilakukan diberbagai daerah. Di satu sisi, pembangunan tersebut akan meningkatkan kualitas hidup manusia, yaitu dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, tetapi di sisi lain akan berakibat pada kesehatan manusia akibat banyaknya pencemaran yang berasal dari limbah industri maupun rumah tangga. Banyaknya limbah ini tidak akan berdampak buruk apabila dalam penanganannya mampu dikelola dengan baik. Namun, kenyataannya masih kurang atau tidak memadainya fasilitas atau peralatan untuk menangani dan mengelola limbah tersebut.

Salah satu pencemaran di lingkungan, baik di perairan maupun di udara adalah dengan masuknya logam berat. Menurut Palaar (1994) logam berat merupakan bahan kimia golongan logam yang sama sekali tidak dibutuhkan oleh tubuh. Jika logam berat tersebut sampai masuk ke dalam tubuh manusia dengan jumlah yang berlebihan akan menimbulkan efek negatif terhadap fungsi fisiologis tubuh. Logam berat yang masuk ke dalam tubuh dengan jumlah yang kecil akan berakumulasi di dalam tubuh, sehingga juga dapat menimbulkan efek negatif dan gangguan pada kesehatan.

Salah satu logam berat yang tergolong berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia yaitu timbal (Pb). Timbal atau timah hitam atau Plumbum (Pb) adalah salah satu bahan pencemar utama di lingkungan. Hal ini terjadi karena sumber utama pencemaran timbal adalah dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Selain itu, timbal juga dapat dijumpai dalam limbah cair industri. Timbal digunakan sebagai aditif pada bahan bakar, khususnya bensin yang mana bahan ini dapat memperbaiki mutu bahan bakar. Sehingga kendaraan bermotor memberikan kontribusi terbesar dalam menyumbang timbal di udara. Apabila tombal itu terhirup atau tertelan oleh manusia, di dalam tubuh timbal akan beredar mengikuti aliran darah, diserap kembali di dalam ginjal dan otak.

Penelitian menunjukkan bahwa timbal yang terserap oleh anak, dapat menyebabkan gangguan pada fase awal pertumbuhan fisik dan mental. Hal ini yang kemudian berakibat pada kecerdasan dan kemampuan akademik anak. Semakin banyak anak terkontaminasi timbal, semakin besar kemungkinan penurunan kecerdasan anak.  Anak-anak dan balita memiliki resiko lebih tinggi terkena pencemaran timbal. Hal ini disebabkan anak-anak lebih sensitif menyerap timbal dibandingkan orang dewasa.  Jika dilihat dari rasio  berat badan, balita dan anak-anak mengkonsumsi makanan dan minuman serta menghirup udara lebih banyak daripada orang dewasa. Paparan dalam waktu yang lama terhadap bahan toksis ini pada anak-anak menyebabkan penurunan kecerdasan (IQ). Hal ini disebabkan karena masih terjadi pertumbuhan pada sistem syaraf anak-anak.

Timbal yang masuk melalui makanan, masuk ke saluran pencernaan dan masuk ke dalam darah. Pada anak-anak, tingkat penyerapan timbal mencapai 53%. Hal ini jauh berbeda pada tingkat penyerapan orang dewasa, yaitu hanya sekitar 10%. Defisiensi besi (Fe) dan Kalsium (Ca) serta diet lemak tinggi dapat meningkatkan absorbsi timbal gastrointestinal. Peningkatan asam lambung dapat meningkatkan absorbsi usus sehingga absorbsi timbal juga meningkat (Riyadina,1997).

Timbal yang masuk ke dalam tubuh bisa saja tidak menimbulkan gangguan kesehatan dan kecerdasan anak. Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah mengatur asupan gizi pada makanan kita.  Tubuh kita masih bisa menerima timbal dalam batas-batas tertentu. Menurut WHO (1997) dalam Naria (1997), untuk mengantisipasi akumulasi timbal dalam tubuh, ditetapkan Provisional Tolerable Weekly Intake (PTWI) timbal yaitu 50 μg/kg BB untuk anak-anak, sedangkan untuk orang dewasa asupan harian timbal yang ditetapkan adalah 200-300 μg per hari.

Begitu berbahayanya dampak dari polusi udara maka dari itu sewajarnya sejak dini kita mencegahnya. Kita tanamkan pada anak-anak untuk tidak mengkonsumsi makanan atau minuman di sembarang tempat. Membawa bekal sendiri dari rumah jauh lebih aman dari pada membeli makanan atau minuman kaleng.

Langkah lain yang paling berpengaruh dalam mengatasi pencemaran timbal di udara adalah menghijaukan kembali lingkungan kita dengan penanaman pohon-pohon yang dapat menyerap timbal.

Mewujudkan generasi yang sehat dengan cara yang sehat dalam lingkungan yang sehat. Itulah bukti bahwa manusia dan makhluk hidup lainnya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan.

Sumber Tulisan :

Naria, 1999. Pengaruh Penyiraman air Sungai Cipinang dan Air tanah Terhadap Kandungan Timbal pada Beberapa Jenis Tanaman Sayuran. Thesis. Universitas Indonesia.Jakarta.

Palar, 1994.Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta: Jakarta.

Riyadina,W.1997.Pengaruh Pencemaran Plumbum Terhadap Kesehatan. Media Litbangkes Balitbang Dep.Kes RI :Jakarta.

One thought on “Timbal Dapat Menurunkan Kecerdasan Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>